Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2019

NUSANTARA DENGAN 7 PULAU UTAMA



📚 NEGERI YANG DIRAMALKAN ITU BERNAMA “AL-YAVAN” ATAU “YAVA DVIPA” (NUSANTARA DENGAN TUJUH PULAU UTAMA)

Oleh: Syansanata Ra
(Yeddi Aprian Syakh al-athas)

Gambar by: Suryaning Dewanti

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Mumpung masih dalam suasana peringatan Dirgahayu Indonesia yang ke-74 maka kali ini izinkan saya untuk berbagi kajian tentang Negeri yang diramalkan.

Untuk itu sebelum kita melanjutkan kajian ini, maka ada beberapa catatan kecil yang perlu kita sepakati terlebih dulu...

1. Kajian ini cukup panjang, tetapi bisa disave untuk dibaca kapanpun jika sudah memiliki waktu luang. Tetapi jika dibaca tuntas maka tentunya akan semakin bermanfaat. 
Ada sebuah nasehat penuh makna dari leluhur kita di masa lalu tentang betapa pentingnya membaca tulisan apapun secara tuntas,
“Yen ngewacen lontar de san nenga-nenga, nyanan tul patintul pepinehé” 
(Jika membaca tulisan janganlah setengah-setengah, karena hanya akan memberikan interpretasi yang prematur).
2. Kajian ini disarikan dari berbagai sumber baik sumber referensi ilmiah ataupun sumber referensi spiritual seperti diskusi lahiriah dan diskusi batiniah.
3. Kajian ini merupakan ijtihad pemikiran semata, jika benar adanya maka kebenaran itu datangnya hanya dari Tuhanmu Yang Maha Benar (Al-Haqqu min Rabbika, fa Laa takuunanna minal mumtariin). Tetapi jika didalamnya terdapat kesalahan atau kekeliruan, maka kesalahan dan kekeliruan tersebut datangnya semata dari diri saya pribadi, dan saya membuka pintu koreksi yang sebesar-besarnya demi untuk kesempurnaan kajian ini.

Jika Anda setuju dengan beberapa catatan kecil di atas mari kita lanjutkan, dan jika Anda tidak setuju maka disarankan untuk berhenti sampai disini...

Nah untuk yang setuju, mari kita mulai...

Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra dengan judul “Al-Jifr A’zham” yang memuat pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman yang diperolehnya dari Baginda Rasulullah saw, menyebutkan adanya sebuah negeri yang akan membawa Kejayaan Islam di akhir zaman bernama NEGERI AL-YABAN, yang disebutkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mayoritas penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Penduduk negeri itu berasal dari golongan ‘Ajam yakni orang-orang non Arab.
3. Penduduk negeri itu baik-baik dan banyak yang dapat membaca Al-Quran.
4. Negeri itu memiliki tanah yang sangat luas dan banyak orang yang hijrah (berpindah) ke negeri itu.
5. Negeri itu memiliki pulau yang jumlahnya lebih dari ratusan dan di negeri itu tinggal keturunan-keturunan Rasulullah (para habib dan sayyid).
6. Negeri itu banyak dinaungi oleh gunung-gunung yang besar dan di negeri itu sering terjadi gempa.
7. Negeri itu menjalin hubungan luar negeri dengan negeri-negeri yang ada di sekitarnya, yakni Negeri CHINA yang berada di Timur Jauh dan Negeri yang berada di belakang Laut Kuning yang namanya sesuai dengan nama rajanya yang dahulu, yang bernama KOREO (maksudnya Negeri KOREA).
8. Di akhir zaman, negeri ini akan menjadi Jaya (mencapai puncak kejayaannya), dimana semua pulau-pulau yang dimilikinya akan dibuka dan terbuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi Isa as.

Dan Negeri yang memiliki delapan ciri-ciri di atas disebut dalam Kitab Al-Jifr A’zham dengan nama AL-YABAN, yang diterjemahkan dengan keliru ke dalam Bahasa Indonesia sebagai NEGERI JEPANG. Padahal jika kita mencermati kedelapan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka ciri-ciri tersebut jelas-jelas merujuk kepada ciri-ciri yang dimiliki oleh INDONESIA dan bukan JEPANG.

Nah pertanyaannya adalah mengapa kata AL-YABAN dalam Kitab Al-Jifr A’zham tersebut bisa diterjemahkan sebagai NEGERI JEPANG?

Jawabnya karena kata AL-YABAN merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, sebagaimana nama SWARNADVIPA (nama Pulau Sumatera dalam Bahasa Sansekerta) diucapkan dalam lisan orang arab sebagai SUWARANDIB. Dan bukan sebuah kebetulan pula jika dalam Peta Kuno PULAU JAWA versi Belanda terdapat daerah yang bernama DJAPAN yang mirip dengan JEPANG.

DR. Menachem Ali dalam bukunya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” menyebutkan bahwa kata YAVAN merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” yang kemudian  mengalami proses transliterasi menjadi “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA.

Sehingga sampai disini, kita menjadi paham bahwa ternyata NEGERI AL-YABAN yang merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, yang disebutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib ra dalam Kitabnya yang berjudul Al-Jifr A’zham sebagai Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, merujuk kepada NEGERI NUSANTARA dimana PULAU JAWA menjadi bagian darinya. 

Dalam buku yang berjudul “Java: Past & Present A Description of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products”, yang ditulis oleh Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915 Masehi, disebutkan sbb,

“Javana or Yavana, or abridged Java, was also the name given only to Sumatra, but also to portions of Borneo and of the Malay Peninsula (probably Pahang) besides the whole of Indo-China.”

Terjemahan: 
“JAVANA atau YAVANA, atau seringkali hanya disebut sebagai JAVA, adalah nama yang diberikan tidak hanya untuk Pulau Sumatera, tetapi juga untuk sebagian Pulau Borneo (Kalimantan) dan Semenanjung Malaysia (mungkin Pahang), disamping itu juga mencakup seluruh kepulauan Indo-China.”

Jadi jelas adanya bahwa yang dimaksud dengan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sesungguhnya merujuk kepada wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China.

Teritori wilayah Nusantara inilah yang pada masa penyebaran Islam oleh Syekh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri), dan Sunan Ampel (ayahanda Sunan Bonang) sebagai generasi pertama Wali Songo disebut sebagai “JAWI” yang merujuk kepada wilayah Nusantara yang mencakup Malaka (Malaysia), Pasai (Aceh) dan Ampeldenta (Surabaya). Baru kemudian pada masa Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri lah teritori “JAWI” ini meluas hingga wilayah Nusantara yang mencakup Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar (Kalimantan), Lombok (NTB), Timor (NTT), Makassar (Sulawesi) hingga Ambon (Maluku). Jangkauan teritori ini merupakan wilayah penyebaran Islam oleh Sunan Giri dan murid-muridnya, dimana keseluruhan teritori itu semua kemudian disebut sebagai “JAWI”. 

Penyebutan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sebagai wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China dengan sebutan JAWI oleh Wali Songo ini tentunya bukan tanpa dasar.

Perhatikan ini ...

Dalam buku “Historis of The Cultivated of Vegetables: Comprising Their Botanical, Medical, Edible and Chemical” yang ditulis oleh Hendry Philips pada tahun 1822 Masehi menyebutkan sbb,

“In old literature reference of the west, before 595 BC, mentioned ‘Calamus’ who traded in western market, that was from East Indies (Indonesia now) and/or also was mentioned term ‘JAVAN’ (‘JAVAN’ is grandson Noah namely) or western people call: ‘JAVA’ or now We know is Jawa Island and/or Java Island (in Sanscret: ‘YAVANA’ or ‘YAWANA’), which explained by Prophet Ezekiel 595 BC and also Alexander the Great era.”

Terjemahan:
“Dalam Literatur Kuno yang berasal dari tahun 595 Sebelum Masehi, disebutkan bahwa ‘CALAMUS’ (sejenis bambu) yang diperjualbelikan di Pasar Barat, berasal dari India Timur (Indonesia sekarang) dan atau juga disebut sebagai ‘JAVAN’ (JAVAN adalah cucu dari Nabi Nuh) atau orang-orang barat menyebutnya ‘JAVA’ atau sekarang kita menyebutnya sebagai ‘PULAU JAWA’ atau ‘PULAU JAVA’ (dalam Bahasa Sansekerta disebut ‘YAVANA’ atau ‘YAWANA’) sebagaimana disebutkan oleh Nabi Ezekiel pada tahun 595 Sebelum Masehi dan juga pada era Alexander Agung.”

Dan dalam buku “Java: Past & Present A Description Of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products” yang ditulis olej Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915, disebutkan bahwa:

“Pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan seni,  berbicara secara luas tentang Japhetic, dan hanya tentang Japhetic saja. Hal ini menjadi alasan yang menjelaskan bahwa penduduk awal Pulau JAWA atau Pulau JAVA, saya ulangi, adalah ras asli yang muncul dari keempat putra JAPHET, dan suku atau masyarakat pulau itu disebut dengan memakai nama putranya. Ras JAWA atau Ras JAVAN ini, selain menyebar ke Hindia Timur, Kamboja, Siam, juga ditemukan di Suriah dan Yunani.”

Jadi dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa YAVAN atau YAVANA itu berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bin JAPHET, yang kemudian menjadi Penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA yang dalam bahasa sansekerta disebut sebagai YAVA-DVIPAM atau YAWA DWIPA.

Lantas bagaimana ceritanya, YAVAN atau YAVANA yang berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bisa dikaitkan oleh para Wali Songo menjadi JAWI, sementara dalam penjelasan di atas hanya disebutkan bahwa JAVAN adalah penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA, tanpa embel-embel kata JAWI.

Jawabnya ada dalam Teks Masoret Perjanjian Lama Berbahasa Ibrani berikut ini,

"Inilah keturunan Shem, Ham dan JAPETH, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu, lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka." 
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:1 )

"(Sedangkan) Keturunan JAPETH adalah Gomer, Magog, Madai, JAVAN, Tubal, Mesekh dan Tiras.”
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:2 )

"Inilah kepulauan GOWI dari keturunan JAPETH, yang masing-masing terbagi menurut tanah mereka, menurut bahasa mereka, dan menurut kaum mereka."
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:5 )

Teks Masoret Perjanjian Lama di atas, menyebutkan bahwa keturunan JAPETH bin NUH, termasuk JAVAN adalah penduduk awal Kepulauan GOWI. Nah kata GOWI disini ternyata dalam Bahasa Ibrani diutulis dengan huruf: GIMEL, VAV dan YOD yang jika ditulis dalam huruf Arab akan menjadi JIM, WAW dan YA yang akan dibaca sebagai JAWIYYI atau JAWI. Jadi para wali songo itu sebenarnya sudah sangat tepat jika mereka menyebut YAVAN atau YAVANA yang berasal dari kata JAVAN (yakni dari nama JAVAN bin JAPETH bin NUH) sebagai JAWI yang mencakup wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China sebagai tempat tinggal keturunan JAPETH bin NUH.

Mudah-mudahan sampai disini bisa dipahami ya.

Sekarang kita kembali ke bahasan tentang Ramalan Negeri Timur...

Ramalan tentang Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, ternyata tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham, namun juga disebutkan dalam Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur (nama aslinya adalah Raden Noer Rahmad, putra dari Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak, lahir pada tahun 1520 Masehi dan wafat pada tahun 1585 Masehi).

Menurut penuturan Kyai Haji Abdul Ghafur, pengasuh pondok pesantren Sunan Drajad yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, disebutkan bahwa sekitar tahun 900-an Masehi, para wali allah yang disebut dengan Wali Abdal yang berjumlah 40 orang, berkumpul di Baghdad (Irak) melakukan rapat pleno untuk mengkaji salah satu hadits Rasulullah saw yang menubuwatkan kejayaan Islam akan bangkit dari Timur. Daerah timur sebelah mana, ternyata dalam hadits juga tidak dijelaskan oleh Rasulullah saw. 

Setelah bermusyawarah, akhirnya para Wali Abdal ini memutuskan untuk mencari Negeri yang berada di timur. Tapi para Wali Abdal ini masih bingung tentang lokasi negeri yang dimaksud. Namun salah satu wali abdal berucap, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ciri penduduk negeri itu ada dua, yakni pertama memiliki ciri-ciri fisik yang berada “di tengah-tengah", dan yang kedua, penduduknya memiliki tingkah laku yang baik. 

Akhirnya para wali melakukan kajian secara geografis, sosiologis dan antropologis. Dicarilah suatu daerah yang secara geografis strategis dan subur, secara sosiologis memiliki peradaban, akhlak dan kebudayaan yang baik, serta secara antropologis berperawakan sedang, tidak pendek dan juga tidak terlalu tinggi, kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, rambutnya tidak keriting dan juga tidak terlalu kaku, matanya tidak sipit dan juga tidak terlalu lebar. 

Atas parameter tersebut, maka dipilihlah NEGERI NUSANTARA sebagai negeri yang berada di timur yang perlu digarap para Wali Abdal guna menyongsong kebangkitan Islam dari Timur.

Apa yang dituturkan oleh Kyai Haji Abdul Ghafur, yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur ini, memiliki kemiripan konteks dengan apa yang pernah disampaikan Kyai Haji As’ad Syamsul Arifin dalam salah satu ceramahnya pada tahun 1980-an sebagai berikut,

“Dalam rapat para ulama di Kawatan, Surabaya, sekitar tahun 1925 Masehi, ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya. Ulama tersebut mengatakan bahwa ia menemukan satu teks sejarah yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Ampel yang menyatakan demikian: ‘Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji pada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw seraya berkata pada saya (Sunan Ampel): Islam ahlussunnah wal jamaah ini bawalah hijrah ke INDONESIA karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam ahlussunnah wal jamaah. Bawalah ia ke INDONESIA’.”

Dan hal menariknya adalah bahwa ternyata Ramalan tentang Negeri di Timur ini, ternyata juga tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham dan Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, melainkan juga disebut dalam Kitab Veda Bhavisya Purana, khususnya Bagian Pratisara Parwa yang berisikan berbagai ramalan tentang masa depan hingga akhir zaman. Dalam Kitab Veda Bhavisya Purana tersebut disebutkan bahwa orang-orang YAVANA akan menguasai peradaban dunia pada akhir Zaman Kaliyuga. Lagi-lagi kita dihadapkan pada kata kunci ”YAVANA”. 

Saya ulangi sekali lagi ya... 
Kata kuncinya disini adalah YAVANA ...

Dalam penjelasan saya sebelumnya, sudah saya jelaskan bahwa kata YAVAN atau YAVANA merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” atau “YAVA DVIPA” yang kemudian mengalami proses transliterasi menjadi “JAVA DWIPA” atau “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA. 

Dalam Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda Bab 40, disebutkan:

“yatnavanto YAVA-DVIPAM sapta rajyopa-sobhitam”

Terjemahan:
“(Sugriva berkata): Selanjutnya kalian akan memasuki wilayah YAVA-DVIPAM (PULAU JAWA) yang termahsyur yang terdiri atas tujuh kerajaan.”
( Kitab Veda Ramayana, Kiskinda-Khanda, 40:30 )

Sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya bahwa Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda, mencatat bahwa pada Zaman Tetrayuga (900 ribu tahun yang lalu) telah berdiri Tujuh Kerajaan megah di Pulau JAWA, yang kemudian dimaknai sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama, yakni: 
1. Yava Dvipa (Pulau Jawa).
2. Kara Dvipa.
3. Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera).
4. Malaya Dvipa (Semenanjung Melayu).
5. Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan).
6. Varah Dvipa.
7. Sula Dvipa (Pulau Sulawesi). 

Sementara Kitab Veda Mahabharata (Veda Mahabharata 6.604), yang ditulis pada 5000 tahun yang lalu, menyebutkan teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama ini sbb: 
1. Jambu Dvipa (Dataran India).
2. Plaksha Dvipa (Pulau Sulawesi).
3. Shalmali Dvipa (Pulau Papua).
4. Kusa Dvipa.
5. Krauncha Dvipa (Pulau Kalimantan).
6. Shaka Dvipa (Pulau Jawa).
7. Pushkara Dvipa.

Memaknai YAVAN atau YAVANA sebagai YAVA-DVIPAM yang mencakup wilayah teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama ini juga dijelaskan dalam penjelasan yang berbeda oleh Mas Oedi (Harunata Ra) sbb:

“Kisah pun berlanjut. Akhirnya Manusia diturunkan ke Bumi dan berkembang menjadi berbagai bangsa dengan ras yang berbeda. Sangat lama mereka hidup di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), lengkap dengan berbagai keunikan dan lika-liku kehidupannya. Dan periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) pun harus berakhir lalu digantikan dengan periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Setelah semuanya cukup waktu, maka periode zaman kedua itu pun harus berakhir dan digantikan dengan periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Nah, pada masa awal periode zaman ketiga (Dirganta-Ra) ini, setelah 1 miliar tahun berlalu, maka untuk pertama kalinya satu di antara kelima sosok dari bangsa Safaru turun ke Bumi. Ia bernama Amarun dan langsung membangun sebuah negeri di atas awan dengan nama YAVANA. Negeri ini (Negeri YAVANA) sangat tersembunyi (tak kasat mata) dan posisinya berada di antara Yava Dvipa (Pulau Jawa), Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera), Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan),  dan Sula Dvipa (Pulau Sulawesi) sekarang. Lalu selang beberapa waktu kemudian, ke empat bangsa Safaru lainnya yang bernama Asorin, Hadirar, Kasibar, dan Giwasur, ikut-menyusul dan tinggal di negeri tersembunyi yang disebut YAVANA itu.”

Jadi apa yang disampaikan oleh Mas Oedi (Harunata Ra) tentang keberadaan NEGERI YAVANA di atas semakin menegaskan bahwa yang dimaksud dengan NEGERI YAVANA itu memang merujuk ke YAVA-DVIPAM atau YAVA DVIPA yang tidak hanya dimaknai sebagai Pulau JAWA saja tetapi juga mencakup teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana (900 ribu tahun yang lalu) dan Kitab Veda Mahabharata (5 ribu tahun yang lalu).

KESIMPULAN:

Kitab Hindu Veda Bhavisya Purana, bagian Pratisara Parwa yang berisikan ramalan-ramalan tentang masa depan, Kitab Al-Jifr A’zham yang berisi pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman, dan Kitab Sunan Sendang Duwur yang berasal dari zaman Wali Songo, ketiganya sama-sama menubuwatkan tentang sebuah Negeri yang berada di Timur yang kelak akan mengalami kejayaannya dan menguasai peradaban dunia di akhir zaman. Dan Negeri itu dikenal dengan nama  YAVAN, YAVANA, AL-YAVAN, AL-YABAN, dan YAVA DVIPA yang dapat diartikan sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana, dan Kitab Veda Mahabharata.

Demikian penjelasan saya tentang sebuah NEGERI YANG DIRAMALKAN, tariklah benang merah yang menghubungkannya lalu buatlah sebuah kesimpulan versi Anda sendiri.

Mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan yang datang dari diri saya pribadi.  

Wallahu ‘alam bishshawab.

SELAMAT DIRGAHAYU NKRI KE-74.
(18 Agustus 1945 - 18 Agustus 2019)

Sarwa Rahayu,
Jaya Jayanti Nusantaraku,
🙏🙏🙏

Bhumi Ma-Nuuwar al-Jawi
18 Agustus 2019 M / 17 Dzulhijjah 1440 H

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2980908885272264&id=2454433481253143

Sabtu, 31 Agustus 2019

IBUKOTA HARUS PINDAH


MENGAPA IBU KOTA HARUS PINDAH ? TINJAUAN MITOS dan HISTORIS

Tahukah anda bahwa angka 5 dan angka 7 memainkan peranan penting dalam kehidupan orang Indonesia khususnya suku Jawa ? Dan kebetulan Presiden Jokowi adalah Wong Jowo nDeles...

Hari Senin 26 Agustus 2019 yang lalu Presiden Jokowi mengumumkan bahwa Ibu Kota RI akan dipindah ke Kalimantan Timur dan mulai ditempati tahun 2024. Banyak yang bertanya : mengapa harus pindah dan mengapa harus dimulai sekarang ? Kali ini kita coba membedah mengapa Ibu Kota bakal pindah, dari sisi Mitos dan Historis. Dan hal ini ada kaitannya dengan angka 5 dan angka 7 yang disakralkan masyarakat suku Jawa.

Angka 5 yang pertama2 dipergunakan untuk jumlah hari, lazimnya disebut hari pasaran. Terdiri dari 5 hari, Kliwon Legi Pahing Pon Wage. Mengapa demikian ? Disebut hari pasaran karena jaman dulu suatu wilayah akan membuka pasarnya secara bergiliran dalam 5 hari diatas. Sebuah prinsip keadilan sosial. Saat ini ada contohnya. Anda lihat Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Rebo, Pasar Jumat... ada di wilayah yang berbeda di jakarta. Itu adalah adaptasi budaya jawa yang disesuaikan dengan sistem eropa. 

Kemudian setelah datangnya agama Islam ke Pulau Jawa maka angka 5 meningkat derajatnya karen merupakan Rukun Islam. Nah makin keren aja angka 5.

Kini di jaman modern maka angka 5 dipatenkan di Indonesia menjadi dasar negara. Pancasila. Anda berani mengubah dasar negara jadi 6 ? Wah, akan berhadapan dengan pasukan berkaos Saya Pancasila, Saya Indonesia, NKRI Price Die....

Bagaimana angka 7 ? Angka 7 dipercaya akan membawa keberuntungan atau kesialan untuk hidup anda. Jika anda kaya banget maka kekayaan anda diramalkan tidak akan habis selama 7 turunan. Tapi jika anda kurang ajar maka anda akan disumpahin 7 turunan juga.

Orang Jawa juga paling ingat keturunan Trahnya hanya sampai ke.7, dengan urutan sebagai berikut :
Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut cucu
Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut cicit
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udhek-udhek
Keturunan ke-7. Gantung siwur

Masuknya agama Islam perhitungan hari berjumlah 7 dalam bahasa Arab yang diserap dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa yakni 
Ahad (Minggu) - Minggu
Isnain (Senin) - Senen
Tsalasa (Selasa) - Seloso
Arbaa (Rabu) - Rebo
Khomsa (Kamis) - Kemis
Jamaah (Jumat) - Jumuah
Asabti (sabtu) - Setu

Maka orang Jawa membuat modifikasi maha dahsyat yakni jika hari pasaran (5) bertemu hari islam (7) jika dikalikan akan berjumlah 35 hari. Itu disebut selapanan. Maka setiap 35 hari jiwa manusia harus diperbaharui dengan doa2 lebih khusus mengingat bertemunya pasaran dari hari.

Nah, percaya atau tidak ternyata sejak.dulu sejarah kekuasaan di Pulau Jawa dalam satu dinasti tidak pernah lebih lama dari 7 orang Raja atau Penguasa. Setelah itu kekuasaan dinasti itu sudah hilang pamornya.dan beralih ke dinasti lain. Biasanya keturunan dinasti yang tetap diam ditempat lama akan turun derajat jadi wilayah bawahan / vasal.

Bukan kebetulan jika Presiden Jokowi sekarang adalah Penguasa ke 7 dari Republik Indonesia. Mungkinkah beliau mendapat wisik atau mendapat masukan dari ahli2 kejawen sehingga berketetapan untuk memindahkan ibu kota ? Sehingga dengan pindah ibu kota maka akan muncul Dinasti / Orde yang baru, generasi yang baru, yang akan membawa Indonesia menuju kejayaan tahun 2045..Karena mungkin.jika.tidak pindah ibu kota maka Republik akan hilang pamornya. Bahkan.menjadi negara "taklukan" adikuasa..walahualam...

Demikian istimewanya angka 5 dan angka 7 dalam kehidupan orang Jawa.

Yuuk kita simak.daftar Raja2 di jawa yang setiap dinastinya hanya sampai 7 turunan saja...

KERAJAAN SINGASARI
Wangsa Rajasa

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung (akuwu Tumapel) mengambil istrinya Ken Dedes, kemudian melakukan serangkaian penaklukan untuk mempersatukan wilayah2 eks kerajaan Kediri dan Daha serta mendirikam Kerajaan Singasari yang berpusat di sekitar Malang.

1.Ken Arok (Sri Rajasa Amuwarbhumi) (1222–1227)
2.Anusapati (1227–1248)
3.Tohjaya (1248)
4.Wisnuwardhana (Ranggawuni) (1248–1254)
5.Prabu Kertanagara (1254–1292)

Lama dinasti : 70 tahun

Kemudian terjadi huru hara datangnya pasukan Kubilai Khan ke tanah Jawa dan dengan tipu muslihat Raden Wijaya (salah satu menantu Prabu Kertanagara) akhirnya mereka dapat diusir kembali. Kemudian Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Ibukota pindah ke daerah Mojokerto 

KERAJAAN MAJAPAHIT
Wangsa Rajasa

1. Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293–1309)
2. Jayanagara (1309–1328)
3.Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350; Ratu pertama)
4.Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350–1389)
5.Wikramawardhana (1390–1428)
6.Suhita (1429–1447)
7.Dyah Kertawijaya / Brawijaya I (1447–1451)

Lama dinasti : 158 tahun

Mulai pengaruhnya digantikan salah satu putranya Raden Patah (Demak) dan pusat kerajaan pindah ke Demak

KESULTANAN DEMAK & PAJANG
Wangsa Raden Patah

1.Raden Patah (1475-1517)
2. Adipati Unus (1518–1520)
3. Sultan Trenggana (1521–1545)
4.Susuhunan Prawata (1546–1548)

Susuhunan Prawata dibunuh oleh menantunya yakni Arya Penangsang. Secara umum Arya Penangsang tidak diakui sebagai susuhunan dan mengalami perang saudara hingga dikalahkan oleh menantu yang lain yakni Pangeran mas Karebet. Keraton dipindah ke kadipaten Pajang

5.Sultan Hadiwijaya/Mas Karebet (Jaka Tingkir) (1549–1582)
6.Sultan Arya Pangiri (1583–1586)
7.Pangeran Benawa (1586–1587)

Lama dinasti : 112 tahun

Pangeran Benawa selanjutnya mengakui kedaulatan daripada Panembahan Senopati yang mendirikan kerajaan Mataram baru di Kotagede, Yogyakarta.

KERAJAAN MATARAM BARU
Wangsa Senopati

1.Panembahan Senopati (1584 - 1601)
2.Panembahan Hanyakrawati (1601 - 1613)
3.Panembahan Arya Martapura (1613 - 1613)
4.Sultan Agung (1613 - 1645)
5.Sunan Amangkurat 1 (1646 - 1677)
6.Sunan Amangkurat 2 (1677 - 1703)
7.Sunan Amangkurat 3 (1703 - 1705)

Lama dinasti : 120 tahun

Beralih ke dinasti Pakubuwana 1 dst yang tidak sepenuhnya merdeka karena sudah mulai melakukan kontrak politik dengan VOC. Dilanjutkan Perang Saudara sehingga 45 th kemudian Mataram baru pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta

Setelah itu kerajaan2 di Pulau Jawa sepenuhnya berada dalam pengaruh kekuasaan VOC dilanjutkan Administrasi kolonial Hindia Belanda

Sampai di tahun 1945 Republik Indonesia lahir dan diproklamasikan di Pulau Jawa

REPUBLIK INDONESIA I
Wangsa Jakarta

1. Soekarno (1945 - 1967)
2. Soeharto (1968 - 1998)
3. Bachrudin Jusuf Habibie (1998 - 1999)
4. Abdurrahman Wahid (1999 - 2001)
5. Megawati Soekarnoputri (2001 - 2004)
6. Susilo Bambang Yudhoyono (2004 - 2014)
7. Joko Widodo (2014 - 2024)

Lama wangsa : 79 tahun

Kekuasan beralih ke Republik Indonesia II Wangsa Paser Kutai mulai 2024 insyaAllah

Jadi Kesimpulannya secara mitos historis ibu kota harus pindah karena penguasanya sudah nomer urut ke 7. Jika tidak maka Republik Indonesia akan hilang pamornya.

Nah, silakan anda cerna dengan keyakinan masing2. Berdoa dimulai....

Sekian dan Terima kasih.

Sumber data : wikipedia et cetera

🙏🙏🙏

Minggu, 14 Juli 2019

ALASAN SISTEM KERAJAAN DI JOGJA


Alasan Jogja Diizinkan Bersistem Kerajaan di Indonesia dan SATU SATUnya di INDONESIA YANG BERSISTIM KERAJAAN HANYA JOGJA

Yogyakarta menjadi satu-satunya daerah yang memiliki sistem pemerintahan dengan sistem kerajaan atau keraton. Sebelum masa kemerdekaan, ada dua daerah yang mewarisi sistem kerajaan, yakni Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Kedudukan dua daerah ini sempat menjadi pembahasan yang panjang pasca kemerdekaan. Yakni menyangkut tentang apakah Jogja diberikan otonomi penuh seperti sebelumnya, atau disejajarkan dengan daerah lain dengan sistem demokrasi.

Sistem pemerintahan yang dipimpin oleh sultan merupakan warisan kebudayaan bagi masyarakat Jogja. Sehingga keterlibatan Jogja yang bersistem kerajaan menimbulkan beberapa masalah. Masyarakat Yogyakarta tidak ingin meninggalkan budaya dan tradisi mereka.

Mengetahui sikap rakyat Jogja, kemudian Sultan Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang bernama Amanat 5 September 1945. Kelima amanat Sultan tersebut berisi tentang penyatuan sistem monarki Jogja ke dalam NKRI. Begitu juga dengan sikap Sri Paduka Paku Alaman VIII yang mengeluarkan sikap yang sama, yang berisi :

Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
Kabupaten Gunung Kidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
Kabupaten Kulon Progo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedang wilayah kekuasaan Kadipaten Paku Alaman meliputi:

Kabupaten Kota Paku Alaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang
Lima Amanat Sultan Hamengkubuwono IX ini merupakan bentuk dukungan Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat terhadap NKRI. Amanat itu dikeluarkan ketika beberapa daerah di Indonesia terancam memisahkan diri setelah proklamasi. Amanat tersebut menyatakan:

" Bahwa Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri "

Pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh Paku Alaman terhadap status pemerintahan dan juga otoritas daerah. Sedangkan makna istimewa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta muncul ketika terjadi kontrak politik antara Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Puro Pakualaman dengan Ir.Soekarno, yang berisi:

Istimewa dalam hal Sejarah, yang menjelaskan mengenai hak asal-usul suatu daerah berdasarkan fakta sejarah dalam proses perjuangan kemerdekaan.
Istimewa dalam hal Bentuk Pemerintahan, dimana bentuk pemerintahannya merupakan gabungan dari dua wilayah dua wilayah, yaitu wilayah Kasultanan & Pakualaman, menjadi satu daerah provinsi yang bersifat kerajaan dalam NKRI
Istimewa dalam hal Kepala Pemerintahan, dimana kepala daerah dijabat oleh Sultan dan Adipati.

Rabu, 03 Juli 2019

KERAJAAN MATARAM



Kerajaan Mataram Islam atau juga dikenal Mataram Baru merupakan kerajaan Islam terbesar di Jawa. Wilayahnya membentang hampir seluruh pulau Jawa.
Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pada masa Sultan Agung, Mataram pernah melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia akan tetapi mengalami kegagalan. Setelah Sultan Agung meninggal, penetrasi politik VOC di Mataram makin kuat. Akibat campur tangan VOC dan adanya perang saudara dalam memperebutkan takhta pemerintahan menjadikan kerajaan Mataram lemah dan akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil.

Campur tangan VOC mulai pada akhir masa pemerintahan Amangkurat I (1645-1677). Muncul perseturuan antara Paku Buwono II yang dibantu Kompeni dengan Pangeran Mangkubumi dapat diakhiri dengan Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 yang isinya Mataram dipecah menjadi dua, yakni ;

Mataram Barat yakni Kesultanan Yogakarta diberikan kepada Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Mataram Timur yakni Kasunanan Surakarta diberikan kepada Paku Buwono III.

Sesudah Perjanjian Giyanti dan pembagian resmi dari kerajaan masih terdapat pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said. Selanjutnya untuk memadamkan perlawanan Raden Mas Said diadakan Perjanjian Salatiga, tanggal 17 Maret 1757, yang isinya Surakarta dibagi menjadi dua, yakni ;

• Surakarta Utara diberikan kepada Mas Said dengan gelar Mangkunegoro I (Kadipaten Mangkunegaran).

• Surakarta Selatan diberikan kepada Paku Buwono III kerajaannya dinamakan Kasunanan Surakarta.

Pada tahun 1813 sebagian daerah Kasultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati. Dengan demikian kerajaan Mataram yang satu, kuat dan kokoh pada masa pemerintahan Sultan Agung akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, yakni :

• Kasunanan Surakarta

• Kasultanan Yogyakarta

• Kadipaten Mangkunegaran

• Kadipaten Pakualaman

#wangsamataram
#trahmangkunagoro1
#pangeransambernyowo

Selasa, 02 Juli 2019

SEJARAH MULAWARMAN


SEJARAH BESAR MULAWARMAN

istana Raja Mulawarman. Pagi itu, 1.500 tahun lampau, Mulawarman sang raja Kutai Martapura menuju sebuah lapangan. Iring-iringan kereta bangsawan menyertainya.

Tanah lapang yang dituju Mulawarman diperkirakan berdiri tak jauh dari istana kayu kediaman sang raja. Nama tempat itu waprakeswara, kira-kira selebar lapangan sepak bola. Lapangan yang disucikan dalam agama Hindu ini diduga kuat berdiri di kawasan Benua Lawas, Bukit Brubus --kini wilayah Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kajian Arkeologi Sejarah Kerajaan Martapura, 2008, hlm 103).

Mulawarman tiba tepat pukul enam pagi. Waktu upacara ini sesuai dengan penelitian Alain Danielou, sejarawan sekaligus penulis Prancis yang mendalami Sansekerta, dalam bukunya berjudul The Classic Work on Hindu Polytheism from the Princeton Bollingen (1964). Pagi yang bersejarah itulah, Mulawarman bersiap mengikuti sebuah upacara keagamaan. Dalam ajaran Weda kuno, aliran Hindu yang dianut sekitar abad kelima, upacara yang diikuti Mulawarman adalah vratyastoma, sebuah kenduri besar yang penuh persembahan. Pelbagai persembahan diberikan sebagaimana tertulis dalam prasasti yupa. Mulai emas, bungai malai --seperti teratai, tanah, air suci atau air susu, biji wijen, hingga lembu.

Persembahan dalam kenduri ini diberikan kepada dewa sebagai penyucian diri sehingga segala kesalahan dan dosa terhapuskan. Di tanah Hindustan, upacara ini bertujuan memupus hukuman kepada seseorang yang membuatnya dikeluarkan dari kasta. Namun, dalam konteks kerajaan Kutai, para ahli menduga tujuan vratyastoma sedikit berbeda. Sebagai daerah yang baru menerima pengaruh Hindu, upacara tadi ditujukan sebagai penanda seseorang memeluk Hindu sekaligus masuk kasta  Upacara yang harus diikuti Mulawarman sebagai penanda ia memeluk Hindu dapat dimaklumi. Dalam ajaran agama ini, seseorang tidak bisa langsung memeluk Hindu jika orangtuanya tidak beragama Hindu. Di Kerajaan Kutai Martapura, raja pertama adalah Kudungga. Dari namanya, para ahli memperkirakan bahwa ia sama sekali tidak memeluk Hindu. Barulah putranya --atau kemungkinan menantunya-- yang bernama Aswawarman yang menjadi seorang Hindu. Namun, ketika Aswawarman mengikuti upacara vratyastoma, putranya yang bernama Mulawarman diduga telah lahir. Mulawarman pun tidak bisa disebut beragama Hindu karena saat ia lahir, ayahnya belum beragama Hindu. Itu sebabnya, dia harus mengikuti ritual yang sama.

Upacara vratyastoma biasanya memiliki siklus 24 tahun sekali. Jika upacara yang diikuti Aswawarman dipimpin brahmana dari permukiman Tamil di India Selatan, tidak dengan Mulawarman. Pendeta yang memimpin ritual yang diikuti Mulawarman sudah berbeda. Ada brahmana dari selatan India, ada pula dari bangsa Indonesia (Prasasti Koleksi Museum Nasional, 1984, hlm 35).

Mengikuti ritual Hindu pada masa kini, lokasi upacara Mulawarman dibagi dalam tiga bagian berupa lingkaran. Di bagian terdalam, lingkaran yang paling kecil, adalah tempat berbagai persembahan. Seluruh sedekah itu dikumpulkan di dekat sebuah tiang batu. Tiap-tiap persembahan, mengutip hasil simposium yang dicatat Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kukar, memiliki makna masing-masing. Yang paling besar adalah 20 ribu ekor sapi. Persembahan ini merupakan lambang pengabul keinginan dan simbol bumi. Sementara minyak kental yang menyerupai gunung menyimbolkan dewata berada di tempat tinggi. Api dari obor adalah simbol kedewataan. Sementara kumpulan bunga malai mengisyaratkan persemayaman dewa.

Mengenai jumlah 20 ribu ekor sapi, para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda. Bisa jadi, angka itu benar adanya meskipun sangat sulit mengumpulkan ternak sebanyak itu di Muara Kaman. Sapi-sapi itu kemungkinan besar didatangkan dari luar pulau. Pendapat lain menyatakan sapi itu memang banyak. Namun, jumlahnya tidak sampai 20 ribu. Angka itu ditulis sebagai simbol dari jumlah doa yang diucapkan para brahmana belaka.



Upacara yang diikuti Mulawarman berlangsung sehari penuh. Petang tiba, ritual pun berakhir. Mulawarman telah sah memeluk agama Hindu kuno sekaligus masuk kasta ksatria. Meskipun upacara telah kelar, tugas para brahmana belum selesai. Mereka mengukir rangkaian upacara beserta persembahannya di atas batu jenis andesit. Permukaan batuan ini harus dipapas agar membentuk bidang yang rata. Sebagian besar batu dengan tinggi 1 meter lebih ini memiliki lima sisi. Para brahmana kemudian mengukir huruf-huruf Pallawa yang pada abad kelima dipakai di India Selatan. Aksara di atas prasasti itu merangkaikan kata-kata dalam bahasa Sansekerta.

Menilik tulisan para brahmana, prasasti didirikan dengan tujuan mencatat perbuatan baik Raja Mulawarman. Hal itu agar seluruh perbuatan Mulawarman dapat dikenang hingga lintas generasi. Bagi Mulawarman, tulisan di atas batu-batu itu menunjukkan bahwa dirinya adalah raja yang besar, dermawan, dan saleh. Sementara bagi para brahmana, prasasti ini adalah ucapan terima kasih mereka karena telah menerima anugerah dari kebaikan budi sang raja

(Kajian Arkeologi Sejarah Kerajaan Martapura, 2008, hlm 116).

Kamis, 20 Juni 2019

NUSWANTARA MENGGAPAI JALANNYA



Nuswantara mengapai jalannya 🇲🇨🇲🇨

Di pendopo agung Keraton Singosari, tiga prajurit utusan Kubilai Khan meminta kerajaan-kerajaan di Jawa takluk dan membayar upeti. Saat itu, ketangguhan pasukan berkuda Mongol tidak tertandingi. Konon, mendengar namanya saja para raja gemetar ketakutan.

Prabu Kertanegara tahu hal ini. Raja Singosari ini juga tahu akibatnya jika menolak permintaan Kubilai Khan. Tapi dia tahu kedaulatan dan harga diri memang harus dijaga dengan darah dan nyawa. Seluruh pendopo pun hening, terdiam menunggu keputusan sang raja.

Raja gagah keturunan Ken Arok itu berjalan mendekati utusan Mongol yang sombong. Mereka jumawa, merasa tidak pernah terkalahkan di kolong langit.

Dengan ringan, Kertanegara mencabut keris pusaka Singosari dari warangkanya. Lebih cepat dari kilat, keris itu menebas telinga Meng Ki, salah satu utusan Negeri Mongol. Ini jawaban Kertanegara atas penghinaan Mongol.

Tanpa bicara, kerisnya sudah bicara. Singosari menolak tunduk pada Mongol. Rakyat Singosari tidak gentar pada tentara Mongol yang katanya tidak terkalahkan. Silakan datang, maka seluruh ksatria Singosari akan melawan.

Siapa sangka jika adegan di abad ke-13 itu turut menentukan alur berdirinya bangsa Indonesia. Jika saat itu, Kertanegara memilih tetap menyarungkan kerisnya, mungkin sejarah Indonesia akan lain. Mungkin Majapahit sebagai penerus Singosari tidak akan pernah berdiri. Tidak akan ada kisah Hayam Wuruk serta Gajah Mada dan Sumpah Palapa. Tapi hari itu adalah takdir, sudah menjadi keinginan yang Kuasa Kertanegara mencabut kerisnya.

Rahayu 💕

Foto :
Keris/betok Jalak sangu tumpeng, Singosari

SILSILAH KERAJAAN SUNDA



SILSILAH KEMAHARAJAAN SUNDA NUSANTARA

KERAJAAN SALAKANAGARA

1. Dewawarman I
2. Dewawarman II
3. Dewawarman III
4. Dewawarman IV
5. Dewawarman V
6. Dewawarman VI
7. Dewawarman VII
8. Dewawarman VIII

KERAJAAN TARUMANAGARA

1. Jayasingawarman (358 – 382) dia adalah menantu dari Dewawarman VIII
2. Dharmayawarman (382 – 395)
3. Purnawarman (395 – 434)
4. Wisnuwarman (434 – 455)
5. Indrawarman (455 – 515)
6. Candrawarman (515 – 535)
7. Suryawarman (535 – 561)
Tahun 526 menantu Suryawarman yang bernama Manikmaya mendirikan kerajaan baru di wilayah Timur (dekat Nagreg Garut) yang kemudian cicit dari Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan kerajaan baru tahun 612 yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Galuh.
8. Kertawarman (561 – 628)
9. Sudhawarman (628 – 639)
10. Hariwangsawarman (639 – 640)
11. Nagajayawarman (640 – 666)
12. Linggawarman (666 – 669)
Anak Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Daputahyang Srijayanasa yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anaknya yang bernama Manasih menikah dengan Tarusbawa yang kemudian melanjutkan kerajaan Tarumanagara dengan nama kerajaan Sunda. Karena Tarusbawa merubah nama kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda maka Wretikandayun pada tahun 612 menyatakan kerajaan Galuh adalah sebagai kerajaan yang berdiri sendiri bukan dibawah kekuasaan kerajaan Sunda walaupun sebenarnya kerajaan-kerajaan itu diperintah oleh garis keturunan yang sama hanya ibukotanya saja yang berpindah-pindah (Sunda, Pakuan, Galuh, Kawali, Saunggalah).

KERAJAAN SUNDA/GALUH/SAUNGGALAH/PAKUAN

1. Tarusbawa (670 – 723)
2. Sanjaya/Harisdarma/Rakeyan Jamri (723 –732) ibu dari Sanjaya adalah putri Sanaha dari Kalingga sedangkan ayahnya adalah Bratasenawa (raja ke 3 kerajaan Galuh) Sanjaya adalah cicit dari Wretikandayun (kerajaan Galuh) Sanjaya kemudian menikah dengan anak perempuan Tarusbawa yang bernama Tejakancana.
3. Rakeyan Panabaran/Tamperan Barmawijaya (732 – 739) adalah anak Sanjaya dari istrinya Tejakancana. Sanjaya sendiri sebagai penerus ke 2 kerajaan Sunda kemudian memilih berkedudukan di Kalingga yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno dan wangsa Sanjaya (mulai 732)
4. Rakeyan Banga (739 – 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)
6. Prabu Gilingwesi (783 – 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (795 – 819)
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819 – 891)
9. Prabu Darmaraksa (891 – 895)
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913)
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916 – 942)
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)
14. Limbur Kancana (954 – 964)
15. Prabu Munding Ganawirya (964 – 973)
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)
17. Prabu Brajawisesa (989 – 1012)
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019)
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030)
20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030 – 1042) Ayah Sri Jayabupati (Sanghyang Ageng) menikah dengan putri dari Sriwijaya (ibu dari Sri Jayabupati) sedangkan Sri Jayabupati sendiri menikah dengan putri Dharmawangsa (adik Dewi Laksmi istri dari Airlangga)
21. Raja Sunda XXI
22. Raja Sunda XXII
23. Raja Sunda XXIII
24. Raja Sunda XXIV
25. Prabu Guru Dharmasiksa
26. Rakeyan Jayadarma, istri Rakeyan Jayadarma adalah Dyah Singamurti/Dyah Lembu Tal anak dari Mahesa Campaka, Mahesa Campaka adalah anak dari Mahesa Wongateleng, Mahesa Wongateleng adalah anak dari Ken Arok dan Ken Dedes dari kerajaan Singasari.
27. Anak Rakeyan Jayadarma dengan Dyah Singamurti bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Karena Jayadarma meninggal di usia muda dan Dyah Singamurti tidak mau tinggal lebih lama di Pakuan maka pindahlah Dyah Singamurti dan anaknya Raden Wijaya ke Jawa Timur yang kemudian Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama.
28. Prabu Ragasuci (1297 – 1303) dia adalah adik dari Rakeyan Jayadarma. Istri Ragasuci bernama Dara Puspa seorang putri dari Kerajaan Melayu. Dara Puspa adalah adik Dara Kencana (yang menikah dengan Kertanegara dari Singasari).
29. Prabu Citraganda (1303 – 1311)
30. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333)
31. Prabu Ajigunawisesa (1333 – 1340) menantu Prabu Lingga Dewata
32. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357), dijuluki Prabu Wangi yang gugur di Perang Bubat.
33. Prabu Mangkubumi Suradipati/Prabu Bunisora (1357 – 1371) adik Lingga Buana
34. Prabu Raja Wastu/Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475) anak dari Prabu Lingga Buana (Prabu Wangi). Istri pertamanya bernama Larasarkati dari Lampung memiliki anak bernama Sang Haliwungan setelah menjadi Raja Sunda bergelar Prabu Susuktunggal. Permaisuri keduanya adalah Mayangsari putri sulung Prabu Mangkubumi Suradipati/Bunisora memiliki anak yang bernama Ningrat Kancana setelah menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Dewaniskala.

Setelah Prabu Raja Wastu meninggal dunia kerajaan dipecah menjadi 2 dengan hak serta wewenang yang sama, Prabu Susuktunggal menjadi raja di kerajaan Sunda sedangkan Prabu Dewaniskala menjadi raja di kerajaan Galuh. Putra Prabu Dewaniskala bernama Jayadewata, mula-mula menikah dengan Ambetkasih putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, kemudian menikah lagi dengan Subanglarang (putri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura) setelah itu ia menikah lagi dengan Kentringmanik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal.

Pada tahun 1482 Prabu Dewaniskala menyerahkan kekuasaan kerajaan Galuh kepada puteranya (Jayadewata), demikian pula dengan Prabu Susuktunggal, ia menyerahkan tahta kerajaan kepada menantunya (Jayadewata), maka jadilah Jayadewata sebagai penguasa kerajaan Galuh dan Sunda dengan gelar Sri Baduga Maharaja atau yang dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.

Senin, 17 Juni 2019

WALI SONGO

SIAPA WALI SONGO





 “Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Saat itu, majelis dakwah Walisongo beranggotakan Maulana Malik Ibrahim sendiri, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana Muhammad Al-Maghrabi (Sunan Maghribi); Maulana Malik Isra'il (dari Champa), Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana 'Aliyuddin, dan Syekh Subakir. Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim - Gapura Wetan, Gresik
Sunan Ampel atau Raden Rahmat - Ampeldenta, Surabaya
Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim - Tuban
Sunan Drajat atau Raden Qasim - Paciran
Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq -Kudus
Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin - Giri, Gresik
Sunan Kalijaga atau Raden Said - Kadilangu, Demak
Sunan Muria atau Raden Umar Said - Kolo, Gunung Muria
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah - Gunung Sembung, Cirebon
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah anak saudara kepada Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.


Click untuk Full Size Image


WALISONGO MENURUT PERIODE WAKTU

Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan, majlis dakwah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Wali Songo tidak hidup dalam suatu masa. Namun demikian, diantara kesembilan wali ini, mereka semua mempunyai sebuah bentuk ikatan yang amat erat, jika tiada hubungan darah diantara mereka, pasti ada hubungan diantara Guru dan Murid.. Bila ada seorang anggota majlis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya:
Angkatan ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419), Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Maulana Malik Isra'il (wafat 1435), Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435), Maulana Hasanuddin, Maulana 'Aliyuddin, dan Syekh Subakir atau juga disebut Syaikh Muhammad Al-Baqir.
Angkatan ke-2 (1435 - 1463 M), terdiri dari Sunan Ampel yang tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (wafat 1463), Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il, Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin (wafat 1462), Maulana 'Aliyuddin (wafat 1462), dan Syekh Subakir (wafat 1463).
Angkatan ke-3 (1463 - 1466 M), terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465), Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465), Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin, Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.
Angkatan ke-4 (1466 - 1513 M, terdiri dari Sunan Ampel (wafat 1481), Sunan Giri (wafat 1505), Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Fathullah Khan (Falatehan) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Derajat, dan Sunan Kalijaga (wafat 1513).
Angkatan ke-5 (1513 - 1533 M), terdiri dari Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517), Raden Faqih Sunan Ampel II yang ahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri, Raden Fattah (wafat 1518), Fathullah Khan (Falatehan), Sunan Kudus (wafat 1550), Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang (wafat 1525), Sunan Derajat (wafat 1533), dan Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga.
Angkatan ke-6 (1533 - 1546 M), terdiri dari Syekh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu) yang ahun 1517 menggantikan ayahnya Syekh Siti Jenar, Raden Zainal Abidin Sunan Demak yang tahun 1540 menggantikan kakaknya Raden Faqih Sunan Ampel II, Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah, Fathullah Khan (wafat 1573), Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati (wafat 1569), Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang, Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat, dan Sunan Muria (wafat 1551).
Angkatan ke-7 (1546- 1591 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599), Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak, Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana, Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati, Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan, Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria.
Angkatan ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qadir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599), Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen, Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto, Maulana Yusuf, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin, Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Mojoagung, Syekh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos).


MASJID DEMAK : Tempat berkumpul Para WALI

RUJUKAN :
Babad Tanah Jawi
Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
Al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran
'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi
Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur
Menyingkap Misteri Pulau Besar oleh Ana Faqir


Posted by Jamaluddin Abu Bakar at 10:15 PM
Labels: gambar wali sembilan, gambar wali songo, kisah wali sembilan, kisah wali songo, sejarah wali sembilan, sejarah wali songo, wali sanga, Wali sembilan, Wali Songo