Tampilkan postingan dengan label Ajaran Adiluhung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Adiluhung. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2019

NGELMU KANTHONG BOLONG

NGELMU KANTHONG BOLONG

Ngelmu Kanthong Bolong adalah ajaran hidup leluhur Jawa yang mengajarkan manusia dalam kehidupannya harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama umat manusia .

Ngelmu dalam pandangan Jawa berbeda dengan pengertian yang umum kita kenal dengan istilah ilmu. Ngelmu memiliki makna atau arti yang bersifat mendalam bersifat ajaran rahasia (esoteris ) dapat dicapai melalui laku

Ngelmu Kanthong Bolong d Dalam jagad wayang kulit digambarkan pada tokoh Petruk yang mempunyai julukan Kanthong Bolong yang mempunyai arti suka berderma.atau dermawan 

Saudara Gareng dan Bagong itu mempunyai kecerdasan dan kepintaran sehingga dinamakan Doblajaya.. Petruk paling pintar dan pandai berbicara melebihi kedua saudaranya.

Petruk mempunyai kepribadian yang sangat luhur dikenal dengan istilah momong, Momot, Momor ,Mursid dan Murakabi.

Momong artinya bisa mengasuh.
Momot artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
Momor artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
Mursid artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
Murakabi artinya bermanfaat bagi sesama.

Ngelmu dalam pandangan Jawa berbeda dengan pengertian yang umum kita kenal dengan istilah ilmu. Ngelmu memiliki makna atau arti yang bersifat mendalam bersifat ajaran rahasia (esoteris ) dapat dicapai melalui laku

RMP Sosrokartono mengungkapkan dalam buku "Ilmu Kantong Bolong;Ilmu Kantong Kosong;Ilmu Sunyi " karya R Muhammad Ali :

"Menolong sesama manusia tanpa memperhatikan waktu perut,kantong,Bila kantong berisikan sesuatu,isi itu dengan pasti dan senantiasa mengalir kepada sesama manusia"

Ngelmu Kanthong Bolong merupakan ngelmu laku hidup RMP Sosrokartono kakak kandung RA Kartini yang bersumber dari terjemahan potongan Surat Al Baqarah ayat 156 : inna lillahi wa inna ilaihi roji'un  

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156)

Moga manfaat

Selasa, 08 Oktober 2019

SYEH SUBAKIR



Pada Sabtu, 29 September 2019, Pesantren KH Aqil Siraj (KHAS) Kempek Cirebon menyelenggarakan acara haul masyayikh dan khotmil Quran. Acara ini dihadiri ribuan santri dan masyarakat, juga dihadiri Syekh Fadil al-Jailani, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Habib Salim Jindan, dan ulama’ Cirebon lainnya.

Kiai Said memberikan ceramah ngajinya dalam acara ini yang mengisahkan tentang para ulama’ yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa, termasuk asal-usul lahirnya ramalan Jayabaya yang terkenal itu. Berikut ini ringkasan ceramah selengkapnya:

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO
Orang yang pertama kali membawa Al Qur’an di pulau Jawa adalah Syekh Subakir. Kitab Al-Qur’an ini diperkenalkan kepada Ratu Shima, Raja Kerajaan Kalingga di Jepara. Walaupun Ratu ini tidak masuk Islam secara terang-terangan (membaca syahadat) tetapi ia memahami kandungan isi Al Qur’an, yakni melaksanakan keadilan seadil-adilnya. Maka Ratu Shima dikemudian hari dikenal sebagai ratu yang paling adil. Dan masyarakatnya dibebaskan memeluk agama Islam.

Syekh Subakir juga memiliki tugas mengikat makhluk-makhluk jahat yang ada di Jawa. Makhluk-makhluk jahat itu dikerangkeng/ diikat dan kemudian dibuang di laut selatan. Kecuali dua makhluk yang tidak mengganggu Islam, yaitu Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Keduanya tidak mengganggu Islam. Setelah Syekh Subakir, datang juga ulama kedua yang membawa agama Islam ke Jawa, yakni Syekh Riasiddin An-Nisaburi terkenal dengan nama Mbah Washil.

Mbah Wasil ini membawa kitab berjudul “Al Asrar” kitab yang menjelaskan tentang rahasia-rahasia.

Kitab itu diajarkan kepada Raja Jaya Katwang (Jayabaya), Raja Doho Kediri. Mbah Washil mengajarkan kitab itu kepada Raja Jayabaya yang dikemudian hari ajaran itu dikenal dengan Ramalan Jayabaya. Makam Mbah Washil ada di belakang masjid Kota Kediri. Sedangkan Syekh Subakir makamnya ada dimana-mana, termasuk ada yang mengatakan di Gunung Tidar, Magelang. Tetapi para sejarawan lebih menyepakati makamnya ada di Gowa Sulawesi Selatan.

Setelah itu datanglah sekelompok para pendakwah ke Indonesia. Salah satunya adalah Syekh Hasanuddin yang mendirikan pesantren di Jawa Barat yang mendirikan pada tahun 1410 M. Syekh Hasanuddin berasal dari Cina dan terkenal dengan panggilan Syekh Kuro. Bertempat di desa Rengasdengklok Karawang. Kuro berasal dari Qori’ yang berarti orang yang mengajarkan Al Qur’an.

Baca Juga >  Untuk MWC NU Banguntapan, Ini Pesan Ketua PCNU Kota Yogya

Syekh Kuro memiliki murid yang bernama Subanglarang, anaknya Ki Gede Tapa kepala Bandar Pelabuhan Cirebon. Subanglarang merupakan perempuan yang cantik jelita. Suatu ketika, Raja Siliwangi mendengar ada agama Islam tersebar di Karawang dan ingin membunuh Syekh Kuro. Tetapi ketika sampai di Pesantren Syekh Kuro, Raja Siliwangi mendengar Subanglarang membaca Al Qur’an membuat Raja Siliwangi jatuh hati. Dan langsung melamarnya. Tetapi sebagai syarat, Syekh Kuro meminta Raja Siliwangi untuk masuk Islam terlebih dahulu.

“Lalu mas kawinnya apa ?” tanya Raja Siliwangi.

“Lintang kerti (tasbih).” Jawab Syekh Kuro.

“Baik, akan saya cari di semua wilayah kekuasaan saya…”

“Tidak ada di sini, adanya di Arab.”

“Gampang, saya akan terbang ke sana.”

Kemudian Raja Siliwangi keluar dari pesantren, lalu membaca mantra “Hong”. Biasanya setelah melafalkan mantra tersebut Raja Siliwangi langsung terbang. Ternyata saat itu tidak bisa.

Kemudian Syekh Kuro berkata:

“Kalau kamu mau terbang, baca dulu Bismillahirrohmanirrohim baru Hong”

Hal tersebut dipraktekkan oleh Raja Siliwangi dan langsung bisa terbang. Tidak lama kemudian kembali lagi membawa tasbih. Lalu terjadilah perkawinan antara Raja Siliwangi yang beragama Budha dan Subanglarang.

Dari perkaawinannya dengan Subanglarang lahirlah Syekh Rahmatullah atau terkenal dengan Sunan Rahmat Suci yang makanya di Gunung Godhog Garut. Yang Kedua Syekh Somadullah yang terkenal dengan Ki Kuwu Sangkan atau Kian Santang. Selanjutnya yang ketiga perempuan yang bernama Rarasantang yang menikah dengan seorang Habib, namanya Sayyid Abdullah Admad Khan yang akhirnya punya anak Syarif Hidayatullah (Sunan Guung Jati).

Kemudian anak yang kedua yang bernama Syekh Somadullah alias Kian Santang menggantikan Raja Siliwangi beragama Islam dan akhirnya rakyat Pajajaran ikut Raja Kian Santang memeluk agama Islam. Kecuali Patih Pucuk Umun dan Suku Baduy di Maringting dengan agamanya Sunda Wiwitan yang menyembang Sang Batara.

Dari warisan pembelajaran Syekh Kuro, baca Qur’an menjadi titik utama dalam dakwah murid-muridnya.

(Yayan/Bangkitmedia.com)

https://bangkitmedia.com/kiai-said-aqil-siraj-asal-usul-ramalan-jayabaya-dari-seorang-wali-asal-an-nisaburi/

Senin, 16 September 2019

PEMIKIRAN KGPA MANGKUNEGORO IV


Mengupas Pemikiran KGPAA Mangkunegoro IV “Mendem Agama” melupakan hakekatnya

Oleh : Pangeran Karyonagoro

✍️ Durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendak-pendak angendak gunaning janma.
(Serat Wedatama pupuh pucung bait ke-06)

[sesungguhnya Ilmu mereka belum memadai, tetapi tergesa-gesa merasa diri mereka sudah seperti ulama, tergesa-gesa merasa diri mereka seperti ulama, sehingga memaknakan doa-doa dan ayat-ayat suci, seperti sayid lulusan Mesir. Setiap kali menyalahkan kepandaian orang.]

Arti perkata, durung, dereng artinya belum, pecus, becus artinya bisa, mampu sesuatu. Kesusu, kesesa artinya tergesa-gesa melakukan sesuatu. Keselak, keselek kata dasarnya selak, selek artinya cepat-cepat (dadakan) segera. Besus artinya serba bersih dan baik. Amaknani dari kata makna dari bahasa Arab artinya keterangan, penjelasan, surasa, lapal dari bahasa Arab yakni lafal artinya kata-kata yang digunakan untuk berdoa (doa-doa, ayat-ayat Al-Quran).

Kaya artinya seperti, sayid dari bahasa Arab jamaknya adalah sādah artinya tuan. Weton bentukan dari kata wetu, wedal, wiyos artinya asal dari. Mesir artinya Mesir nama negara di Timur Tengah. Pendak-pendak artinya sering. Angendak artinya meremehkan. Gunaning, piguna dari kata guna artinya berguna (ilmunya). Janma, jalma artinya manusia, sesama manusia.  

“Orang-orang yang membanggakan dirinya merasa sudah pintar dalam berucap dan mengartikan doa-doa dan ayat-ayat suci”. Dengan tegas dan jelas Mangkunegara IV mengatakan “durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendak-pendak angendak gunaning janma”, artinya belum cakap atau belum mampu (dalam ilmu tertentu), namun tergesa-gesa ingin cakap atau mampu (dalam ilmu tertentu) dengan baik. Sehingga memaknakan doa-doa dan ayat-ayat suci, seperti sayid lulusan Mesir. Setiap kali menyalahkan kepandaian orang.

Kata cakap definisi dari KBBI adalah pandai, mahir, mampu atau sanggup melakukan sesuatu hal. Artinya orang yang cakap adalah orang yang mempunyai kemampuan suatu hal, pandai atau orang yang mahir dalam bidang keilmuan tertentu. Ini yang dimaksud orang yang pecus, becus, yakni yang matang dalam berpikir dan bertindak.

Orang Jawa mengatakan orang yang tidak sanggup sesuatu hal dengan kata “wong ora pecus atu becus” atau “durung pecus atu becus”. Orang yang sudah “pecus” akan menjadi “wong beneh”. Dalam konsep ilmu padi semakin “tua semakin  menunduk”, tidak mudah menyombongkan dirinya dan ilmunya.

Bagi orang yang “durung pecus, kesusu kaselak besus” merupakan indikator bagi orang-orang yang tidak pandai namun berlagak sok pandai, sok pintar, sok bisa, dan bilang sudah menguasai sesuatu namun belum menguasai apapun. Orang yang seperti ini mudah membanggakan ilmunya dan menyombongkan dirinya. Jiwa ke-akuan-nya tinggi dan tidak bisa sumeleh. Ketika jiwa ke-akuan-nya tinggi akan membentuk karakter “sapa sira, sapa inggsun”. Akumulasinya orang akan mudah berbuat “adigang, adigung, adiguna, adiwicara”.

Mengkunegara IV menjelaskan dengan kalimat “amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendak-pendak angendak gunaning janma”, (sehingga memaknakan doa-doa dan ayat-ayat suci, seperti sayid lulusan Mesir, setiap kali menyalahkan kepandaian orang lain).

Dari pernyataan Mangkunegara IV ada hal-hal yang menarik. Pertama, dalam kajian kebahasaan yakni sosiolinguistik adanya interferensi bahasa yakni dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, ini yang dinamakan kedwibahasaan. Misal kata amaknani dari kata makna, lapal dari kata lafal dan sayid.  Dapat diprediksi pada jamannya Serat Wedatama dibuat atau digubah pada periode perkembangan Islam sedang massif, di sisi lain banyak yang belajar di Timur Tengah sehingga digunakannya kosa kata bahasa Arab. Dan merupakan sebuah upaya untuk mengakomodir Islam ke dalam budaya Jawa melalui bahasa. Perpaduan-perpaduan ini merupakan bentuk-bentuk atau model-model Islam Jawa.

Kedua, digunakannya kata sayyid dan Mesir. Kata sayyid merujuk pada keturunan Nabi yang mempunyai kedudukan mulia, terhormat, dan layak dihormati. Apabila ditilik dari kesejarahannya sebelum pra-Islam, kata sayyid lazim dipakai untuk sebutan orang-orang yang memiliki sejumlah keutamaan. Sayyid dipandang mulia, terhormat, luhur, terkenal, atau agung di komunitas tertentu.

Makna sayyid adalah tuan, di Jawa semakna dengan kata raden, dari kata rahadian artinya tuan. Raden merupakan gelar kebangsawanan keturunan raja di Jawa. Kata raden juga digunakan untuk menyebut keturunan Kiai (anak laki-laki) dengan nama Gus dari kata den bagus, kata den bentukan dari kata raden, rahadian. Sehingga arti dari Gus adalah tuanku yang bagus.

Indikasi lainnya kata sayyid dalam Serat Wedatama merupakan sebuah counter dan adanya sentimen agama pada waktu itu. Serat Wedatama diklaim sebagai puncak estetika sastra Jawa abad ke-19. Pada abad ke-19 yang sangat didominasi oleh para ulama yang terpengaruh oleh paham-paham dari Timur Tengah, terkhusus Wahabiyah. Dan ini sebagai kritik terhadap konsep pengajaran Islam yang ortodoks, mencerminkan pergulatan budaya Jawa dengan gerakan pemurnian Islam pada waktu itu.

Sedangkan kata Mesir mempresentasikan sebuah negara yang mempunyai peradaban besar dan gudangnya para Ulama artinya orang-orang pintar (cendekia). Dan di Mesir juga ada kampus tertua yakni Al-Azhar.

Orang-orang yang semacam itu oleh Mangkunegara IV dikatakan sebagai orang sombong, orang yang mempunyai pemikiran langka, tidak mudah diikuti, dan lebih mementingkan kebudayaan bangsa lain dari pada kebudayaan bangsa sendiri. Hal semacam itu merupakan suatu hal yang sia-sia atau percuma. Jauh-jauh belajar ke negeri orang sampai Mekkah namun tidak diaplikasikan di negeri sendiri dengan baik dan disesuaikan dengan konteks budayanya sendiri.

✍️ Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok jawane (jamane) den mohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah (Serat Wedhatama pupuh Pucung bait ke-07)

[tabiat seperti itu adalah tabiat orang yang sombong, berpikiran langka, artinya sukar diikuti dan yang lebih aneh lagi ilmu dan kebudayaan berasal dari zaman serta bangsa sendiri tidak ia sukai. Ia lebih menyukai ilmu dan kebudayaan bangsa lain dan susah payah menuntut ilmu di negeri orang.]

Dapat disimpulkan Mangkunegara IV merupakan orang Jawa jenius mampu menganalogikan seperti ulama lulusan Mesir bahkan belajar sampai di Mekkah. Pada akhirnya dengan kepintarannya mudahnya sedikit-sedikit menyalahkan orang lain. Tidak melihat konteks dengan budayanya sendiri, lebih suka budayanya bangsa asing.

Hal ini sangat mungkin sesuai dengan kenyataan saat ini, fenomenanya banyak sekali di masyarakat dari segi bahasa mulai digunakan bahasa ukhti, akhwat, ikhwan dan sebagainya. Seakan-akan menutup diri tidak mau tahu dengan keadaan di sekatarnya yakni sosial masyarakat. Hipotesanya adalah akar budaya sendiri harus kuat menancap dalam sanubari, sehingga mampu mempunyai pondasi kebudayaan saat terjadi intervensi budaya-budaya asing. Tidak latah dan tidak gagap dalam menghadapi perubahan.

Jawa kuat ke-Jawan-nya, kedalaman rasanya, sampai pada manunggaling kawula-Gusti. Dalam konsepsi Islam dikenal mencapai maqam makrifatullah. Maka orang-orang yang demikian yang memiliki kedalaman hakikat dan merayakan budayanya sendiri.

Rahayu Sagung Dumadi πŸ™πŸ»

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2599995553390401&id=100001399444697

PIKIRAN SESEPUH LEBIH TAJAM


"Ing tembe yen wus pikun, pantes bae ulah idu wilut, bangsa bincil ambabatang ngusadani, mbok munia theyot theblung, tan ana wong amaido".

(Kemudian kalau sudah tua renta, pantas sajalah mengerjakan (bidang) ludah bertuah, soal2 perhitungan primbon menebak2 (kejadian/lelakon dan) memberi obat, berkata apapun, tak ada orang mendustakannya).

(Serat Wedharaga Ronggowarsito) 

Dari merekalah kita belajar memomong, memahami dan menyayangi orang2 di sekitarku, dgn kasih sayang dan pengertian tanpa batas yg membahagiakan, menentramkan dan menguatkan. Sebuah ajian pamomong agung yg membuat semua yg dimomong akan menjadi besar karena  kebesaran hati dan jiwanya, keluasan dalam berpikirnya.

Kira harus belajar dari beliau sesepuh terutama ulama sepuh yg alim, saling menghormati dan menghargai. Sementara kita yg masih awam, malah saling menjatuhkan satu sama yg lain, merasa diri paling benar.

Pitutur Sesepuh Jawa: Wejangan Pedoman Hidup
    
1.  Sabar subur, gemi setiti mukti, artinya : Sabar itu akhirnya subur/bahagia, hemat cermat itu rahmat. 

2.  Dora lara, goroh kerogoh, artinya : Berdusta itu menderita, Menipu itu akhirnya tertipu. 

3.  Aja dumeh, mengko mundak keweleh, artinya : Jangan suka meremehkan, nanti malu sendiri/tercemar diri sendiri 

4.  Lut-lutan lowe, nyamber buntute dewe. Artinya : Orang yg memfitnah orang lain, tetapi fitnah itu mengenai diri sendiri.

5.  Ora nyedak wong ladak, ora nyanding wong muring-muring, artinya : Tidak mendekati orang yg congkak, tidak mendampingi orang yg marah2. 

6.  Singa papa ngulati mangsa, artinya : Orang yg menipu rakyat, pura2 berbuat baik tetapi tujuannya mencari untung/mangsa. 

7.  Ojo geguyon mundak kleru, ojo anggak mundak kelenggak, artinya : Jangan suka mentertawai orang lain, karena bisa keliru, jangan terlalu angkuh, bisa terhempas. 

8.  Pamer cemer, gemendung glundung, artinya : Pamer bisa mengurangi harga diri congkak dan tinggi hati bisa tergelincir. 

9.  Ajining diri gumantung saka lati, ertinya : Harga diri kita tergantung dari mulut kita sendiri, meskipun tinggi derajadnya tetapi jika mulut kita tidak bisa di percaya, dapat di pastikan hilang harga diri dan kewibawaan. 

10.   Ana gunem mingkem, ana catur mungkur, ana padu mlebu, artinya : Ada percekcokan tutup mulut, ada pembicaraan menjelekkan orang lain, tidak usah mendengarkan, ada perselsihan menyingkirkan diri. 

Sebenarnya masih banyak lagi pitutur yg lain, tetapi semoga saja yg sedikit ini bisa membuka mata hati kita, menata nurani bening sanubari kita, untuk meraih kebajikan, kebijakan yg arif dan kearifan yg luhur. 

Orang yg mempunyai martabat paling tinggi ialah orang yg memikirkan sesuatu dgn sebaik2nya, merasakan sesuatu dgn cara paling santun dan bijak, serta bertindak dgn cara yg paling baik.

Rabu, 11 September 2019

DILARANG MENIKAH DIBULAN SURO


BUKAN SYARIAT TAPI ADAB WONG JOWO

Izin copas Bu nyai hajjah
Shuniyya Ruhama...πŸ™πŸ™πŸ™

Bagi masyarakat Jawa,  bulan Suro adalah salah satu bulan sakral setelah Puasa.  Bedanya,  kalau bulan Puasa penuh dengan ritual ibadah baik pribadi maupun yang bersifat syi'ar agama,  sedangkan Suro lebih banyak tidak menggelar acara kegembiraan. Terutama acara pernikahan dan khitan.

Ini bukan tanpa sebab.  Bagi penduduk Jawa,  Suro merupakan bulan dukacita mendalam. Yakni terjadinya pembantaian keturunan Kanjeng Nabi SAW secara brutal.  Hanya menyisakan balita bernama Sayyid Ali Zainal Abidin.

Karena itulah,  dianggap sangat tidak etis menggelar acara yang intinya merayakan kebahagiaan di saat seperti ini. Sebagai tanda penghormatan kepada Kanjeng Nabi dan seluruh keturunannya.

Masyarakat Islam di Nusantara adalah penganut setia faham ahlussunnah wal jama'ah dengan guru tasawuf Imam Hasan Al Bashri,  Imam Al Ghozali dan Imam Al Junaidy.  Sehingga dirasa cukup memperingati bulan Suro dengan cara demikian. 

Tentu berbeda dengan penduduk Persia. Mereka memiliki kedekatan psikologis yang luar biasa dari sisi historis.

Bermula dari penaklukan Kemaharajaan Persia oleh Kholifah Amirul Mukminin Sayyidina Umar RA.  Pasca penaklukan,  beliau mengirimkan salah satu Ulama Terbaik yakni Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah.

Raja Persia jatuh hati dengan kealiman dan kelembutan beliau.  Akhirnya secara sukarela masuk Islam.  Dan ternyata diikuti oleh seluruh penduduk negeri tersebut. 

Untuk memperkuat silaturahim,  maka putra Sayyidina Ali yakni Sayyidina Husein dinikahkan dengan putri Sang Raja. Dari pernikahan ini lahir beberapa keturunan.

Karena itu,  sangat dipahami kedekatan psikologis antara penduduk Persia (Iran dan sebagian Irak)  terhadap Sayyidina Husein. 

Itulah mengapa mereka ketika memperingati peristiwa Karbala menjadi lebih semarak dan menyayat daripada kita orang Islam di Nusantara. 

Namun demikian tidak bijaksana jika kita menghakimi. Karena urusan mahabbah terkadang tidak bisa dijabarkan dengan syariat bloko.  Cukup bagi kita tidak meniru cara yang mereka lakukan. 

Kembali ke tradisi larangan menikah di Bulan Suro.  Sekali lagi ini urusannya adalah adab dan mahabbah.  Jadi tidak bisa dicari dalilnya secara syar'ie. 

Adapun ketika dalam kondisi darurat harus ada pernikahan di bulan ini,  maka tradisi telah memberi solusi. 

Salah satunya ialah pengantin putri harus menerobos tembok yang dijebol. Larangan menikah di bulan Suro diibaratkan tembok.  Jadi siapa saja yang menikah di bulan ini berarti nabrak tembok.

Karena itu secara sengaja dibuat ritual tambahan yaitu temboknya dijebolkan,  dibuatkan jalan.  Sebagai simbol permintaan maaf dan mohon ijin kepada Sayyidina Husein,  Sayyidina Ali dan Sayyidina Kanjeng Nabi Muhammad SAW. 

Adapun dalil keumumannya ialah ada di Hadits Qudsi: Qoolallaahu 'azza wa jalla " Anaa ma'a dzonni 'abdii" (Gusti Allah berfirman: Aku beserta persangkaan hambaKu).

Dengan kata lain,  kita berhusnudzon kepada Kanjeng Nabi dengan cara kulo nuwun untuk melaksanakan hajat kebahagiaan di bulan dukacita. Dan ridlo Kanjeng Nabi adalah ridlo Gusti Allah SWT jua. 

Dengan demikian,  Islam yang membudaya menjadi fleksibel dan bisa dijalankan secara luwes oleh semua penganutnya.  Sangat indah, kan? 

Salam cinta Islam Nusantara.  Salam NKRI harga mati...πŸ˜˜πŸ’—πŸ˜˜πŸ’—

#RAHAYUπŸ™πŸ™πŸ™Sederek Grop Islam Kejawen"

Kamis, 04 Juli 2019

AJARAN LUHUR



#Info_Penting
WA: 081- 3464- 28333

Group WA Ajaran Leluhur Agung.
Group Ngelmu Kasampurnan (Budi Pekerti Luhur).

Poro Kadang Kinasih Group Ngelmu Kasampurnan (Budi Pekerti Luhur) Ingkang Minulyo.
Wonten Wisik Ingkang Ngremenaken Kagem Poro Kadang Ingkang Leres Leres Niti Laku Batin Inti Agami.


Sasi Juli 2019 Ngantos Akhir 2023, Doyo Cumlorot Terang Benderang Madhangi Poro Jalmo Manungso Ingkang Kathi LERES Niti Laku Inti Batin Agami.
Doyo Niku Ndadosaken Poro Pendaki (Selami Leres Guru Ingkang Mbimbing) Bakal Gampil Nggayuh Purnoning Ngaurip Soho Purnoning Wangsul Ing Mangke.

Poro Salik Ajaran Leluhur Agung, Monggo Samiyo Nggenter Laku (Energi Pendampingan Kulo Njeenengan Manfaataken Kagem Tetulung Liyan Lan Kagem Pribadi Njenengan Sak Keluwargo). Energi Niku Saget Njenengan Damel Kagem Nopo Mawon Selami Nyangkut Bab Kesaenan Ing Gesang Bebrayan.


Mugi Wisik Niki Ndadosaken Doyo Pacu Lelaku Poro Kadang Sedoyo.

Samiyo Nindak Lanjuti KRENTEK Lan KAREP Dateng TEKAd MADHEP Ing Wedal KHUSUS NIKI Kanthi LAKU LAN BIMBINGAN GURU INGKANG BENER BENER GURU.

Rahayu...Rahayu...Rahayu...

Sabtu, 18 Mei 2019

FILOSOFI JAWA



SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA

1. URIP IKU URUP

"Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik"

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA

Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak

3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI

"Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar"

4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO

"Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan"

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KALANGAN

"Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu"

6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN

"Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja"

7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN

"Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi"

8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA

Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka

9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO

Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.