Kisah Kang Abdul Wahab menyembuhkan Anjing di Papua
Kang Abdul Santri Asal Tegal yang mendapatkan tugas oleh Kyainya untuk berdakwah ditanah Papua selama bertahun-tahun, banyak cerita yang unik selama berdakwah di negeri mutiara hitam tersebut, salah satunya yaitu ketika kang Abdul disuruh menyembuhkan seekor anjing yang sedang sakit, bagaimana ceritanya yuk kita baca sampai selesai.
Jacobus, anak papua berusia 10 tahun suatu hari berlari menemui Kang Abdu L Wahab, orang Jawa yg lama berdakwah di Papua .
Jacobus meminta Kang Abdu L wahab untuk mengobati anjingnya yang sekarat, Kang Abdu tersenyum dan mengiyakan. Mereka berdua menuju rumah Jacobus.
Melihat anjing tersebut sekarat, kang Abdu yang asli Tegal itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dlm bahasa Tegal :
"Su, Asu (jing, anjing), angger kowen arep mati ya mati (kalau kamu mau mati ya mati aja), angger arep urip ya waras (Kalau mau hidup, sembuhlah)".
Jacobus yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir kang Abdu menggunakan bahasa Arab. Diam2 Jacobus menghafalkan kata-kata yg dia kira mantra/do'a itu, Setelah mendoakan anjing yang sakit Kang Abdu langsung pulang kepesantren tempat ia tinggal.
Beberapa hari kemudian, Jacobus lari ke Pesantren Kang Abdu bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh.
Namun ternyata Kang Abdu sedang sakit. Jacobus terkejut, dan menuju ke kamar Kang Abdu lalu menempelkan telapak tangannya ke jidatnya. Ambil membaca mantra:
"Su, asu, angger kowen arep mati ya mati, angger arep urip ya waras".
Kang Abdu kaget dan tertawa langsung sembuh.
Create by santrionline
Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Juli 2019
JEJAK PLEIADIAN
Gunung Lawu
Jejak Pleiadian
Sebuah portal langit (Vortex gate) dipercaya tersimpan jauh di dalam perut Gunung Lawu, salah satu titik mistis paling dahsyat di seluruh pulau Jawa. Dalam salah satu frase pembuka di dalam “The Lost Symbol”, secara tersirat Dan Brown menyebutkan itu. Adalah fakta jika tahun 1995, NASA menjejak sebuah sinar putih misterius uang memancar dari daerah ini hingga jauh ke luar angkasa.
Pada tahun 1995, NASA mendeteksi adanya sebuah sinar putih misterius yang memancar dari wilayah Gunung Lawu hingga jauh ke luar angkasa. Setahun kemudian, NASA mengerahkan puluhan ahli dari bebagai negara untuk melakukan penelitian di beberapa titik di selatan Jawa Tengah. Mereka berpencar di sekitar area Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Dieng, pantai Parang Tritis dan sebagainya.
Dalam “The Lost Symbol” (2009) Dan Brown menulis, “Pada 1991, sebuah dokumen disimpan dalam brankas Direktur CIA. Kini, dokumen tersebut masih ada di sana. Teks tersandinya antara lain menyebutkan portal kuno dan lokasi tak dikenal di bawah tanah. Dokumen itu juga berisikan frasa, “Terkubur di suatu tempat di luar sana…” Di sekitar Gunung Lawu, portal-portal kuno tersebut sampai hari ini masih terbenam di perut bumi.
Beberapa informasi yang menarik. Bentuk Candi Sukuh yang mirip piramida terpenggal itu bukan bentuk umum candi di Nusantara. Apakah Sukuh punya hubungan khusus dengan Suku Maya? Apakah benar Candi Sukuh dibangun di masa akhir keruntuhan Majapahit, bukan zaman pra sejarah? Selain Candi Sukuh, di sekitar sana ada tiga situs kuno lainnya yakni Candi Cetho, Candi Kethek dan Candi Planggatan, di mana keempat situs kuno tersebut sama-sama menghadap ke arah Ka’bah, kiblat bagi muslim sedunia.
Dari puncak Candi Sukuh atau dalam perjalanan Sukuh-Cetho kita dapat melihat bukit piramida ke arah selatan. Konon, di sinilah sesungguhnya keberadaan Piramida asli yang dibangun leluhur sebagai bagian utama dari Keraton Bathara Indra di Wukir Mahendra alias Gunung Lawu. Sinar putih yang terekam satelit NASA di luar angkasa pada tahun 1995 kabarnya berasal dari piramida ini.
Menurut sejarahnya, Lawu merupakan gunung purba, dan keberadaannya dibuktikan dengan ditemukannya banyak candi dan batu besar di Kaki Lawu.
Berdasarkan hasil dari penelitian pihak asing, menurut Polet -biasa dipanggil Pak Po, sosok yang sangat dekat dengan Lawu, menyebutkan jika keberadaan Candi Cetho dan Sukuh tersebut bukan dibuat pada zaman Brawijaya.
Bahkan jauh sebelum era Brawijaya candi ini sudah ada. Saat Prabu Brawijaya menemukan candi ini, raja itu menambahkan beberapa bentuk bangunan atau pahatan pada candi.
Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu ini tertua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Sukuh pada tahun 1982 silam.
Langganan:
Postingan (Atom)

