Tampilkan postingan dengan label Agama dan Penghayat Kepercayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Penghayat Kepercayaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2019

TRADISI LARUNG SESAJI



TRADISI LELARUNG SESAJI SESAT ???

Pertama :
Seringkali kata kata ini disampaikan pada kelompok muslim yg menghormati semesta raya. Misalnya, Gambar berikut dibawah ini dianggap sesat. Ritual melarungkan sebagian makanan di sungai dianggap sebagai perbuatan sia-sia.Padahal, makhluk Allah yg wajib dihormati itu bukan hanya Manusia  melainkan semua ciptaannya. Ada ikan, air, sungai, laut, Jin, dst. Larung saji adalah salah satu bentuk penghormatan. Menebang pohon besar aja masyarakat ini perlu minta izin, berdoa, dan menghormatinya. Bukan sekedar potong potong dan selesai.
Apakah menghormati pohon yang juga makhluk tuhan disebut sesat ?
Apakah menghormati sungai dgn segala makhuk di dalamnya yg juga makhuk Tuhan disebut sesat ?
Bukankah Sulaiman As juga menghormati Semut ?

Kedua :
Tradisi penggunaan Sesaji sebagai media komunikasi dengan pemilik semesta sudah ada jauh sebelum kita lahir. Bacalah Roman historis kisah Cinta Qabil Labuda, Habil Iqlima. Dalam cerita tersebut Qabil kalah sesaji dengan Habil. Habil Memberikan hewan ternak yg sehat, gemuk dan tidak cacat. Sebaliknya, Qabil memberikan gandum dan produk pertanian seadanya.

Ketiga :
Ada kesalahan persepsi memahami Sesaji, sejak awal kelompok ini TIDAK ADA NIAT menyembah selain Allah, justru mereka melakukan Sesaji untuk membangun komunikasi dengan makhluk Allah yg lain. Kenapa disyirik syirikkan ?
Kenapa dimusyrik musyrikan ? 
Kenapa disesat sesatkan ?
Bisa jadi fatwa syirik yg tidak pernah mereka lakukan adalah FITNAH. Mereka menghormati makhluk Allah yg bernama alam raya.
Tanah bukanlah benda mati
Laut bukanlah benda mati
Sungai bukanlah benda mati
Pohon bukanlah benda mati
Gunung bukanlah benda mati
Mereka adalah makhluk Allah yg hidup dan membantu kita menjalani kehidupan.

Ke Empat :
Bertanyalah dengan Ilmu
Berbedalah dengan Adab 
Walau tidak melakukan seperti mereka, marilah menjaga dan menghormati adat mereka.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2514915258530241&id=100000353744384

Minggu, 25 Agustus 2019

KETIKA AGAMA KEHILANGAN TUHAN



Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

Kamis, 08 Agustus 2019

AGAMA BUDHA


Agama Hindu sebagai agama tertua di Dunia dengan toleransi yang tinggi.

March 22, 2017 by Semeton Dewata
(Gianyar // semetondewatanews)

Asal-usul Agama Hindu di dunia dimulai dari masuknya Bangsa Arya ke India sejak 1500 SM. Masuknya Bangsa Arya ke India membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India. Perubahan tersebut terjadi karena Bangsa Arya mengadakan integrasi kebudayaan dengan Bangsa Dravida dan selanjutnya integrasi ini melahirkan agama Hindu.

Bangsa Arya kemudian mulai menulis kitab-kitab suci Weda. Kitab suci ini dituliskan dalam 4 bagian seperti Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda.

Peradaban dan kehidupan bangsa Hindu terdapat juga dalam kitab Brahmana atau dalam kitab Upanisad.

Ketiga kitab inilah yang menjadi dasar pemikiran dan dasar kehidupan orang-orang Hindu.

Keberadaan agama Hindu ditindaklanjuti dengan adanya perubahan corak kehidupan di India. Corak kehidupan masyarakat Hindu tersebut dibedakan atas 4 kasta, diantaranya:

Kasta Brahmana:
Keagamaan.

Kasta Ksatria: Pemerintahan.

Kasta Wacyd (Waisya): Pertanian dan perdagangan.

Kasta Cudra (Sudra): Kaum pekerja kasar.

Bangsa Hindu memiliki kepercayaan bersifat politeisme (memuja banyak dewa). Di dalam pemujaan terhadap dewa itu sering dibuatkan atau disbolkan berupa patung-patung yang disesuaikan dengan peranan / fungsi dewa tersebut di dalam kehidupan manusia.

Patung-patung itu merupakan simbol dari dewa-dewa yang disembahnya seperti misalnya Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Dewa Pelindung, dan Dewa Siwa sebagai Dewa Pelebur atau Pembinasa. Ketiga dewa itu diberi nama Tri Murti. Tri Murti sendiri berarti yang Maha Kuasa. Sedangkan dewa-dewa lainnya yang dipuja seperti Dewi Saraswati sebagai Dewi Kesenian dan Ilmu Pengetahuan, Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan, dan lain sebagainya.

Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म “Kebenaran Abadi” ), dan Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya).

Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. 

Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa.

Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini.

Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya sampai masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu juga agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, namun selain di Bali banyak juga yang tersebar di pulau Jawa, Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis – Sidrap).

ETIMOLOGI

Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. 

Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu.

Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana.

Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum dikenal dengan sebutan Hindu, semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.

KEYAKINAN DALAM AGAMA HINDU

Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.

Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Pancasradha.

Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:

1. Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya

2. Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk

3. Karmaphala Tattwa – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan

4. Punarbhava Tattwa – percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)

5. Moksa Tattwa – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia

KONSEP KETUHANAN

Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui.

Sebenarnya konsep ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak secara menyeluruh.

PUSTAKA SUCI

Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma. Di antara susastra suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua dan lengkap, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama dan Purana serta kedua Itihasa (epos), yaitu Ramayana dan Mahabharata.

Bhagawadgita adalah ajaran yang dimuat dalam Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai ringkasan dari Weda.

Hindu meliputi banyak aspek keagamaan, tradisi, tuntunan hidup, serta aliran/sekte. Umat Hindu meyakini akan kekuasaan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Brahman dan memuja Brahma, Wisnu atau Siwa sebagai perwujudan Brahman dalam menjalankan fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.

Secara umum, pustaka suci Hindu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kitab Sruti dan kelompok kitab Smerti.

Sruti berarti “yang didengar” atau wahyu. Yang tergolong kitab Sruti adalah kitab-kitab yang ditulis berdasarkan wahyu Tuhan, seperti misalnya Weda, Upanishad, dan Bhagawadgita. Dalam perkembangannya, Weda dan Upanishad terbagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil, seperti misalnya Regweda dan Isopanishad. 

Kitab Weda berjumlah empat bagian sedangkan kitab Upanishad berjumlah sekitar 108 buah.

Smerti berarti “yang diingat” atau tradisi. Yang tergolong kitab Smerti adalah kitab-kitab yang tidak memuat wahyu Tuhan, melainkan kitab yang ditulis berdasarkan pemikiran dan renungan manusia, seperti misalnya kitab tentang ilmu astronomi, ekonomi, politik, kepemimpinan, tata negara, hukum, sosiologi, dan sebagainya. Kitab-kitab smerti merupakan penjabaran moral yang terdapat dalam kitab Sruti.

KARAKTERISTIK

Dalam agama Hindu, seorang umat berkontemplasi tentang misteri Brahman dan mengungkapkannya melalui mitos yang jumlahnya tidak habis-habisnya dan melalui penyelidikan filosofis. Mereka mencari kemerdekaan dari penderitaan manusia melalui praktik-praktik askese atau meditasi yang mendalam, atau dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih, bakti dan percaya (Sradha).

Umat Hindu juga menyebut agamanya sebagai Sanatana Dharma yang artinya Dharma yang kekal abadi.

Menurut kepercayaan para penganutnya, ajaran Hindu langsung diajarkan oleh Tuhan sendiri, yang turun atau menjelma ke dunia yang disebut Awatara. Misalnya Kresna, adalah penjelmaan Tuhan ke dunia pada zaman Dwaparayuga, sekitar puluhan ribu tahun yang lalu. 

Ajaran Kresna atau Tuhan sendiri yang termuat dalam kitab Bhagawadgita, adalah kitab suci Hindu yang utama. Bagi Hindu, siapapun berhak dan memiliki kemampuan untuk menerima ajaran suci atau wahyu dari Tuhan asalkan dia telah mencapai kesadaran atau pencerahan. Oleh sebab itu dalam agama Hindu wahyu Tuhan bukan hanya terbatas pada suatu zaman atau untuk seseorang saja. Bahwa wahyu Tuhan yang diturunkan dari waktu ke waktu pada hakekatnya adalah sama, yaitu tentang kebenaran, kasih sayang, kedamaian, tentang kebahagiaan yang kekal abadi, tentang hakekat akan diri manusia yang sebenarnya dan tentang dari mana manusia lahir dan mau ke mana manusia akan pergi, atau apa tujuan yang sebenarnya manusia hidup ke dunia.

ENAM FILSAFAT HINDU

Terdapat dua kelompok filsafat India, yaitu Astika dan Nastika. Nastika merupakan kelompok aliran yang tidak mengakui kitab Weda, sedangkan kelompok Astika sebaliknya. Dalam Astika, terdapat enam macam aliran filsafat. Keenam aliran filsafat tersebut yaitu: Nyaya, Waisasika, Samkhya, Yoga, Mimamsa, dan Wedanta.
Ajaran filsafat keenam aliran tersebut dikenal sebagai Filsafat Hindu.

Kelompok Nastika umumnya kelompok yang lahir ketika Hindu masih berbentuk ajaran Weda dan kitab Weda belum tergenapi. Hindu baru muncul selah adanya kelompok Astika. Kedua kelompok tersebut antara Astika dan Nastika merupakan kelompok yang sangat berbeda (Nastika bukanlah Hindu)
Terdapat enam Astika (filsafat Hindu) — institusi pendidikan filsafat ortodok yang memandang Weda sebagai dasar kemutlakan dalam pengajaran filsafat Hindu — yaitu: Nyāya, Vaisheṣhika, Sāṃkhya, Yoga, Mīmāṃsā (juga disebut dengan Pūrva Mīmāṃsā), dan Vedānta (juga disebut dengan Uttara Mīmāṃsā) ke-enam sampradaya ini dikenal dengan istilah Sad Astika Darshana atau Sad Darshana.

Diluar keenam Astika diatas, terdapat juga Nastika, pandangan Heterodok yang tidak mengakui otoritas dari Weda, yaitu: Buddha, Jaina dan Carvaka.
Meski demikian, ajaran filsafat ini biasanya dipelajari secara formal oleh para pakar, pengaruh dari masing-masing Astika ini dapat dilihat dari sastra-sastra Hindu dan keyakinan yang dipegang oleh pemeluknya dalam kehidupan sehari-hari.

KONSEP HINDU

Hindu memiliki beragam konsep keagamaan yang diterapkan sehari-hari. Konsep-konsep tersebut meliputi pelaksanaan yajña, sistem Catur Warna (kasta), pemujaan terhadap Dewa-Dewi, Trihitakarana, dan lain-lain.

DEWA- DEWI HINDU

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, setara dengan malaikat, dan merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Kata “dewa” berasal dari kata “div” yang berarti “beResinar”. Dalam kitab suci Reg Weda, Weda yang pertama, disebutkan adanya 33 Dewa, yang mana ketiga puluh tiga Dewa tersebut merupakan manifestasi dari kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Diantara Dewa-Dewi dalam agama Hindu, yang paling terkenal sebagai suatu konsep adalah: Brahmā, Wisnu, Çiwa. Mereka disebut Trimurti.

Dalam kitab-kitab Weda dinyatakan bahwa para Dewa tidak dapat bergerak bebas tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa juga tidak dapat menganugerahkan sesuatu tanpa kehendak Tuhan. 

Para Dewa, sama seperti makhluk hidup yang lainnya, bergantung kepada kehendak Tuhan.

Filsafat Advaita (yang berarti: “tidak ada duanya”) menyatakan bahwa tidak ada yang setara dengan Tuhan dan para Dewa hanyalah perantara antara beliau dengan umatnya.

GOLONGAN MASYARAKAT

Dalam agama Hindu, dikenal istilah Catur Warna bukan sama sekali dan tidak sama dengan kasta. Karena di dalam ajaran Pustaka Suci Weda, tidak terdapat istilah kasta. yang ada hanyalah istilah Catur Warna. 

Dalam ajaran Catur Warna, masyarakat dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

* Brāhmana : golongan para pendeta, orang suci, pemuka agama dan rohaniwan

* Ksatria : golongan para raja, adipati, patih, menteri, dan pejabat negara

* Waisya : golongan para pekerja di bidang ekonomi

* Sudra : golongan para pembantu ketiga golongan di atas

Menurut ajaran catur Warna, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu. Catur Warna menekankan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak.

Dalam sistem Catur Warna terjadi suatu siklus “memberi dan diberi” jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

PELAKSANAAN RITUAL

Dalam ajaran Hindu, Yajña merupakan pengorbanan suci secara tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada para leluhur, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta. Biasanya diwujudkan dalam ritual yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan umat Hindu.

Tujuan pengorbanan tersebut bermacam-macam, bisa untuk memohon keselamatan dunia, keselamatan leluhur, maupun sebagai kewajiban seorang umat Hindu. 

Bentuk pengorbanan tersebut juga bermacam-macam, salah satunya yang terkenal adalah Ngaben, yaitu ritual yang ditujukan kepada leluhur (Pitra Yadnya).

SEKTE (ALIRAN) DALAM HINDU

Jalan yang dipakai untuk menuju Tuhan (Hyang Widhi) jalurnya beragam, dan kemudian dikenallah para dewa. Dewa yang tertinggi dijadikan sarana untuk mencapai Hyang Widhi. Aliran terbesar agama Hindu saat ini adalah dari golongan Sekte Waisnawa yaitu menonjolkan kasih sayang dan bersifat memelihara; yang kedua terbesar ialah Sekte Siwa sebagai pelebur dan pengembali yang menjadi tiga sekte besar, yaitu Sekte Siwa, Sekte Sakti (Durga ), dan Sekte Ganesha, serta terdapat pula Sekte Siwa Siddhanta yang merupakan aliran mayoritas yang dijalani oleh masyarakat Hindu Bali, sekte Bhairawa dan Sekte – Sekte yang lainnya. Yang ketiga ialah Sekte Brahma sebagai pencipta yang menurunkan Sekte Agni, Sekte Rudra, Sekte Yama, dan Sekte Indra.

Sekte adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup menurut Agama Hindu, yaitu moksha (kembali kepada Tuhan), dan pemeluk Hindu dipersilahkan memilih sendiri aliran yang mana menurutnya yang paling baik/bagus.

TOLERANSI UMAT HINDU

Agama ini memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran, yang mana di dalam kitab Weda dalam salah satu baitnya memuat kalimat berikut:
Sansekerta: एकम् सत् विप्रा: बहुधा वदन्ति
Alihaksara: Ekam Sat Vipraaha Bahudhaa Vadanti
Cara baca dalam bahasa Indonesia: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti

Bahasa Indonesia: “Hanya ada satu kebenaran tetapi para orang pandai menyebut-lNya dengan banyak nama.”

— Rg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46)

Dalam berbagai pustaka suci Hindu, banyak terdapat sloka-sloka yang mencerminkan toleransi dan sikap yang adil oleh Tuhan. Umat Hindu menghormati kebenaran dari mana pun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal itu diuraikan dalam kitab suci mereka sebagai berikut:

samo ‘haṁ sarva-bhūteṣu na me dveṣyo ‘sti na priyah ye bhajanti tu māṁ bhaktyā mayi te teṣu cāpy aham

(Bhagawadgita, IX:29)

Arti:
Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk. Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah

(Bhagawadgita, 4:11)

Arti:
Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna) Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati, tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham

(Bhagawadgita, 7:21)

Arti:
Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang, Aku perlakukan mereka sama dan Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap Meskipun ada yang menganggap Dewa-Dewi merupakan Tuhan tersendiri, namun umat Hindu memandangnya sebagai cara pemujaan yang salah.

Dalam kitab suci mereka, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda:

ye ‘py anya-devatā-bhaktā yajante śraddhayānvitāḥ te ‘pi mām eva kaunteya yajanty avidhi-pūrvakam

(Bhagawadgita, IX:23)

Arti:
Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)

Pemeluk agama Hindu juga mengenal arti Ahimsa dan “Satya Jayate Anertam”. Mereka diharapkan tidak suka (tidak boleh) membunuh secara biadab tapi untuk kehidupan pembunuhan dilakukan kepada binatang berbisa (nyamuk) untuk makanan sesuai swadarmanya, dan diminta jujur dalam melakukan segala pikiran, perkataan, dan perbuatan.

http://kb.alitmd.com/sejarah-lengkap-agama-hindu/


Rabu, 31 Juli 2019

AGAMA DAN KEPERCAYAAN NUSANTARA


NAMA AGAMA ASLI NUSANTARA

01. Agama Bali (sering disebut Hindu Bali atau Hindu Dharma)
02. Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
03. Sukma maneges 
04. Buhun (Jawa Barat)
05. Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
06. Parmalim (Sumatera Utara)
07. Kaharingan (Kalimantan)
08. Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
09. Tolottang (Sulawesi Selatan)
10. Wetu Telu (Lombok)
11. Naurus (Pulau Seram, Maluku)
12. Aliran Mulajadi Nabolon
13. Marapu (Sumba)
14. Purwoduksino
15. Budi Luhur
16. Pahkampetan
17. Bolim
18. Basora
19. Samawi
20. Sirnagalih
NAMA ALIRAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI NUSANTARA
JAWA TIMUR
01. Aliran Kebatinan Tak Bernama
02. Aliran Seni dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
03. Babagan Kasampurnan
04. Badan Kebatinan Rila
05. Budi Rahayu
06. Cakramanggilingan
07. Dasa Sila
08. Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu sejati R. Rawiro Utomo(HIMUWIS RAPRA)
09. Induk Wargo Kawruh Utomo
10. Jawi Wisnu
11. Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)
12. Kahuripan
13. Kapitayan
14. Kapribaden Upasana
15. Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir
16. Kepercayaan Sapta Dharma Indonesia
17. Ketuhanan Kasampurnan
18. Kodratullah Manembah Ghoibing Pangeran
19. Margo Suci Rahayu
20. Paguyuban Darma Bhakti
21. Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono
22. Paguyuban Kawruh Bathin “101”
23. Paguyuban Kawruh Bathin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan
24. Paguyuban Kawruh Bathin Jiwo Lugu
25. Paguyuban Kawruh Murti Utomo Wasito Tunggal
26. Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan
27. Paguyuban Kawruh Sasongko
28. Paguyuban Lebdho Guno Gumelar
29. Paguyuban Manunggaling Karso
30. Paguyuban Ngesti Budi Sejati
31. Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)
32. Paguyuban Satriyo Mangun Mardiko Dununge Urip
33. Paham Jiwa Diri Pribadi
34. Panembah Jati
35. Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)
36. Pelajar Kawruh Jiwo
37. Perguruan Ilmu Sejati
38. Perhimpunan Kamanungsan
39. Perhimpunan Kepribadian Indonesia
40. Purwaning Dumadi Kautaman
41. Rasa Manunggal
42. Sujud Manembah Bekti
43. Tri Murti NaluriMajapahit
44. Urip Sejati
JAWA TENGAH
01. Badan Kebatinan Indonesia
02. Badan Keluarga Kebatinan Wisnu
03. Elang Mangkunegara
04. Hak (Kawruh Hak)
05. Hidayat Jati Ranggawarsita
06. Hidup Betul
07. Himpunan Kebatinan Rukun Wargo
08. Ilmu Kasampurnan Jati
09. Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)
10. Kalimasada Rasa Sejati
11. Kapribaden (Kawruh Kapribaden)
12. Kasampurnan
13. Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati
14. Kawruh Roso Sejati
15. Kawruh Urip Sejati
16. Kejaten
17. Kejawen
18. Kejiwaan
19. Langgeng Suci
20. Mustiko Sejati
21. Ngudi Utomo
22. Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)
23. Paguyuban Budi Sejati
24. Paguyuban Hasto Broto
25. Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran
26. Paguyuban Kaluwargo Kapribaden
27. Paguyuban Muda Dharma Indonesia
28. Paguyuban Ngesti Jati
29. Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal
30. Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panunggalan
31. Paguyuban Trijaya
32. Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)
33. Paguyuban Jawa Naluri
34. Pangudi Rahayuning Budhi (PRABU)
35. Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)
36. Papandaya
37. Pembagunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)
38. Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)
39. Perjalanan Tri Luhur
40. Persatuan Resik Kubur Jero Tengah
41. Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)
42. Pramono Sejati
43. Pribadi
44. Purwo Ayu Mardi Utomo
45. Ratu Adil
46. Saserepan Kepribadian Intisari (SKI’45)
47. Saserepan’45
48. Sentana Darma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)
49. Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)
50. Sukma Sejati51. Tujuh Mulya
52. Waspodo
53. Wayah Kaki
54. Wratama Wedyanantama Karya
55. Wringin Seta
DIY YOGYAKARTA
01. Angesti Sampurnaning Kautaman
02. Anggayuh Panglereming Napsu (APN)
03. Hak Sejati
04. Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin
05. Imbal Wacono
06. Kasampurnan Jati
07. Kelompok Setu Pahing
08. Mardi Santosaning Busi (MSB)
09. Minggu Kliwon
10. Ngesti Roso sejati
11. Ngesti Roso
12. Paguyuban Jawi Lugu
13. Paguyuban Kawruh Hardo Puruso
14. Paguyuban Kebudayaan Djawi (PKD)
15. Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram
16. Paguyuban Keluarga Besar Sri Sadono
17. Paguyuban Rabo Wage
18. Paguyuban Sangkara Muda
19. Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)
20. Paguyuban Traju Mas
21. Perguruan Das
22. Persatuan Eklasing Budi Murko
23. Sumarah Purbo
24. Tuntunan Kerohanian Sapta Darma
25. Yayasan Sosrokartono
JAWA BARAT
01. Aliran Kepercayaan Aji Dipa
02. Aliran Kepercayaan Lebak Cawene
03. Budi Rahayu
04. Paguyuban Adat Cara Karuhun
05. Perjalanan Budi Daya
DKI JAKARTA
01. Aliran Kebatinan Perjalanan
02. Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan Paran Budi Luhur)
03. Forum Sawyo Tunggal
04. Urip Utami (Gautamai)
05. Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)
06. Mersudi Kaluhuring Budi Pekerti (Mekar Budi)
07. Musyawarah Agung Warna
08. Ngudi Kawruh Rasa Jati
09. Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat Indonesia Murni (Sri Murni)
10. Paguyuban Kebatinan Ilmu Hak
11. Paguyuban Ki Ageng Selo
12. Paguyuban Penghayat Kapribaden
13. Paguyuban Sumarah
14. Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)
15. Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)
16. Pangudi Ilmu Kepercayaan Hidup Sempurna (PIKHS)
17. Perhimpunan Peri Kemanusiaan
18. Persatuan Warga Theosofi Indonesia
19. Pran-Suh (Ngesti Kasampurnan)
20. Purbaning Lampang Sejati
21. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruktining
22. Sri Langgeng
23. Susila Budhi Dharma (SUBUD)
24. Tri Sabda Tunggal
25. Tunggal Sabda Jati
26. Wisma Tata Naluri
LUAR JAWA
01. Adat Lawas (Kalimantan Timur)
02. Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumatera Utara)
03. Ata Kahfi (Nusa Tenggara Timur)
04. Babolin (Kalimantan Tengah)
05. Bakubung (Kalimantan Tengah)
06. Basora (Kalimantan Tengah)
07. Bolin (Kalimantan Tengah)
08. Budi Suci (Bali)
09. Cahaya Kusuma (Sumatera Utara)
10. Era Mula Watu Tana (Nusa Tenggara Timur)
11. Galih Puji Rahayu (Sumatera Utara)
12. Golongan Si Raja Batak (Sumatera Utara)
13. Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (Nusa Tenggara Timur)
14. Habonaron Do Bona (Sumatera Utara)
15. Hajatan (Kalimantan Tengah)
16. Hidup Sejati (Nusa Tenggara Barat)
17. Ilmu Ghoib (Lampung)
18. Ilmu Ghoib Kodrat Alam (Lampung)
19. Jingitiu (Nusa Tenggara Timur)
20. Kaharingan Dayak Luwangan (Kalimantan Tengah)
21. Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4 dan Paju 10 (Kalimantan Selatan)
22. Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalimantan Tengah)
23. Kakeluargaan (Bali)
24. Kepercayaan A. Halu (Kalimantan Tengah)
25. Kepercayaan G. Adat Musi (Sulawesi Utara)
26. Lera Wulan Tana Ekan (Nusa Tenggara Timur)
27. Magapokan (Bali)
28. Mangimang Sumabu Duata (Sulawesi Utara)
29. Marapu (Nusa Tenggara Timur)
30. Ngoja (Kalimantan Tengah)
31. Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian – PPIK (Lampung)
32. Paompungan (Sulawesi Utara)
33. Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumatera Selatan)
34. Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulawesi Utara)
35. Purwo Deksono (Lampung)
36. Purwo Madio Wasono (Sumatera Utara)
37. Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried – RAMAI (Sulawesi Utara)
38. Silima / Pamena (Sumatera Utara)
39. Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumatera Utara)
40. Wisnu Budha / Eka Adnyana (Bali)
LAIN-LAIN
01. Agama Jawa Asli Republik Indonesia
02. Dununge Urip
03. Ilmu Sejati
04. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso
05. Kawruh Budhi Jati
06. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)
07. Kawruh Kasunyatan Kasumpurnan Pusoko Budi Utomo
08. Kawruh Kebatinan Gunung Jati
09. Kawruh Panggayuh Esti
10. Kawula Warga Naluri
11. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa
12. Kapitayan
13. Memayu Hayuning Bawono
14. Ngelmu Beja-Mulur Mungkret
15. Paguyuban Pambuka Das Sanga
16. Pamengku
17. PanaMajapahit
18. Podo Bongso
19. Purbokayun
20. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya)
21. Tri Tunggal Bayu

Rahayu...🙏

Sabtu, 08 Juni 2019

AGAMA DI NUSANTARA

AGAMA AGAMA NUSANTARA

01. Agama Bali (Hindu Bali/Hindu Dharma)

02. Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)

03. Sukma maneges

04. Buhun (Jawa Barat)

05. Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)

06. Parmalim (Sumatera Utara)

07. Parbaringin (Sumatera Utara)

08. Pamena (Sumatera Utara)

09 Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)

10 Tolottang (Sulawesi Selatan)

11. Wetu Telu (Lombok)

12. Naurus (Pulau Seram, Maluku)

13. Aliran Mulajadi Nabolon

14. Marapu (Sumba)

15. Purwoduksino

16. Budi Luhur

17. Bolim

18. Basora

19. Samawi

20. Sirnagalih

21. Pahkampetan

22. Arat Sabalungan (Mentawai)

23. Kaharingan (Kalimantan)

NAMA ALIRAN-ALIRAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI NUSANTARA

A. JAWA TIMUR

01. Aliran Kebatinan Tak Bernama

02. Aliran Seni dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

03. Babagan Kasampurnan

04. Badan Kebatinan Rila

05. Budi Rahayu

06. Cakramanggilingan

07. Dasa Sila

08. Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu sejati R. Rawiro Utomo(HIMUWIS RAPRA)

09. Induk Wargo Kawruh Utomo

10. Jawi Wisnu

11. Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)

12. Kahuripan

13. Kapitayan

14. Kapribaden Upasana

15. Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir

16. Kepercayaan Sapta Dharma Indonesia

17. Ketuhanan Kasampurnan

18. Kodratullah Manembah Ghoibing Pangeran

19. Margo Suci Rahayu

20. Paguyuban Darma Bhakti

21. Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono

22. Paguyuban Kawruh Bathin “101”

23. Paguyuban Kawruh Bathin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan

24. Paguyuban Kawruh Bathin Jiwo Lugu

25. Paguyuban Kawruh Murti Utomo Wasito Tunggal

26. Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan

27. Paguyuban Kawruh Sasongko

28. Paguyuban Lebdho Guno Gumelar

29. Paguyuban Manunggaling Karso

30. Paguyuban Ngesti Budi Sejati

31. Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)

32. Paguyuban Satriyo Mangun Mardiko Dununge Urip

33. Paham Jiwa Diri Pribadi

34. Panembah Jati

35. Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)

36. Pelajar Kawruh Jiwo

37. Perguruan Ilmu Sejati

38. Perhimpunan Kamanungsan

39. Perhimpunan Kepribadian Indonesia

40. Purwaning Dumadi Kautaman

41. Rasa Manunggal

42. Sujud Manembah Bekti

43. Tri Murti NaluriMajapahit

44. Urip Sejati

B. JAWA TENGAH

01. Badan Kebatinan Indonesia

02. Badan Keluarga Kebatinan Wisnu

03. Elang Mangkunegara

04. Hak (Kawruh Hak)

05. Hidayat Jati Ranggawarsita

06. Hidup Betul

07. Himpunan Kebatinan Rukun Wargo

08. Ilmu Kasampurnan Jati

09. Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)

10. Kalimasada Rasa Sejati

11. Kapribaden (Kawruh Kapribaden)

12. Kasampurnan

13. Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati

14. Kawruh Roso Sejati

15. Kawruh Urip Sejati

16. Kejaten

17. Kejawen

18. Kejiwaan

19. Langgeng Suci

20. Mustiko Sejati

21. Ngudi Utomo

22. Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)

23. Paguyuban Budi Sejati

24. Paguyuban Hasto Broto

25. Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran

26. Paguyuban Kaluwargo Kapribaden

27. Paguyuban Muda Dharma Indonesia

28. Paguyuban Ngesti Jati

29. Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal

30. Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panunggalan

31. Paguyuban Trijaya

32. Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)

33. Paguyuban Jawa Naluri

34. Pangudi Rahayuning Budhi (PRABU)

35. Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)

36. Papandaya

37. Pembagunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)

38. Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)

39. Perjalanan Tri Luhur

40. Persatuan Resik Kubur Jero Tengah

41. Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)

42. Pramono Sejati

43. Pribadi

44. Purwo Ayu Mardi Utomo

45. Ratu Adil

46. Saserepan Kepribadian Intisari (SKI’45)

47. Saserepan’45

48. Sentana Darma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)

49. Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)

50. Sukma Sejati51. Tujuh Mulya

52. Waspodo

53. Wayah Kaki

54. Wratama Wedyanantama Karya

55. Wringin Seta

C. DIY YOGYAKARTA

01. Angesti Sampurnaning Kautaman

02. Anggayuh Panglereming Napsu (APN)

03. Hak Sejati

04. Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin

05. Imbal Wacono

06. Kasampurnan Jati

07. Kelompok Setu Pahing

08. Mardi Santosaning Busi (MSB)

09. Minggu Kliwon

10. Ngesti Roso sejati

11. Ngesti Roso

12. Paguyuban Jawi Lugu

13. Paguyuban Kawruh Hardo Puruso

14. Paguyuban Kebudayaan Djawi (PKD)

15. Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram

16. Paguyuban Keluarga Besar Sri Sadono

17. Paguyuban Rabo Wage

18. Paguyuban Sangkara Muda

19. Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)

20. Paguyuban Traju Mas

21. Perguruan Das

22. Persatuan Eklasing Budi Murko

23. Sumarah Purbo

24. Tuntunan Kerohanian Sapta Darma

25. Yayasan Sosrokartono

D. JAWA BARAT

01. Aliran Kepercayaan Aji Dipa

02. Aliran Kepercayaan Lebak Cawene

03. Budi Rahayu

04. Paguyuban Adat Cara Karuhun

05. Perjalanan Budi Daya

DKI JAKARTA

01. Aliran Kebatinan Perjalanan

02. Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan Paran Budi Luhur)

03. Forum Sawyo Tunggal

04. Urip Utami (Gautamai)

05. Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)

06. Mersudi Kaluhuring Budi Pekerti (Mekar Budi)

07. Musyawarah Agung Warna

08. Ngudi Kawruh Rasa Jati

09. Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat Indonesia Murni (Sri Murni)

10. Paguyuban Kebatinan Ilmu Hak

11. Paguyuban Ki Ageng Selo

12. Paguyuban Penghayat Kapribaden

13. Paguyuban Sumarah

14. Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)

15. Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)

16. Pangudi Ilmu Kepercayaan Hidup Sempurna (PIKHS)

17. Perhimpunan Peri Kemanusiaan

18. Persatuan Warga Theosofi Indonesia

19. Pran-Suh (Ngesti Kasampurnan)

20. Purbaning Lampang Sejati

21. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruktining

22. Sri Langgeng

23. Susila Budhi Dharma (SUBUD)

24. Tri Sabda Tunggal

25. Tunggal Sabda Jati

26. Wisma Tata Naluri

E. LUAR JAWA

01. Adat Lawas (Kalimantan Timur)

02. Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumatera Utara)

03. Ata Kahfi (Nusa Tenggara Timur)

04. Babolin (Kalimantan Tengah)

05. Bakubung (Kalimantan Tengah)

06. Basora (Kalimantan Tengah)

07. Bolin (Kalimantan Tengah)

08. Budi Suci (Bali)

09. Cahaya Kusuma (Sumatera Utara)

10. Era Mula Watu Tana (Nusa Tenggara Timur)

11. Galih Puji Rahayu (Sumatera Utara)

12. Golongan Si Raja Batak (Sumatera Utara)

13. Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (Nusa Tenggara Timur)

14. Habonaron Do Bona (Sumatera Utara)

15. Hajatan (Kalimantan Tengah)

16. Hidup Sejati (Nusa Tenggara Barat)

17. Ilmu Ghoib (Lampung)

18. Ilmu Ghoib Kodrat Alam (Lampung)

19. Jingitiu (Nusa Tenggara Timur)

20. Kaharingan Dayak Luwangan (Kalimantan Tengah)

21. Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4 dan Paju 10 (Kalimantan Selatan)

22. Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalimantan Tengah)

23. Kakeluargaan (Bali)

24. Kepercayaan A. Halu (Kalimantan Tengah)

25. Kepercayaan G. Adat Musi (Sulawesi Utara)

26. Lera Wulan Tana Ekan (Nusa Tenggara Timur)

27. Magapokan (Bali)

28. Mangimang Sumabu Duata (Sulawesi Utara)

29. Marapu (Nusa Tenggara Timur)

30. Ngoja (Kalimantan Tengah)

31. Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian – PPIK (Lampung)

32. Paompungan (Sulawesi Utara)

33. Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumatera Selatan)

34. Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulawesi Utara)

35. Purwo Deksono (Lampung)

36. Purwo Madio Wasono (Sumatera Utara)

37. Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried – RAMAI (Sulawesi Utara)

38. Silima / Pamena (Sumatera Utara)

39. Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumatera Utara)

40. Wisnu Budha / Eka Adnyana (Bali)

F. LAIN-LAIN

01. Agama Jawa Asli Republik Indonesia

02. Dununge Urip

03. Ilmu Sejati

04. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso

05. Kawruh Budhi Jati

06. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)

07. Kawruh Kasunyatan Kasumpurnan Pusoko Budi Utomo

08. Kawruh Kebatinan Gunung Jati

09. Kawruh Panggayuh Esti

10. Kawula Warga Naluri

11. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa

12. Kapitayan

13. Memayu Hayuning Bawono

14. Ngelmu Beja-Mulur Mungkret

15. Paguyuban Pambuka Das Sanga

16. Pamengku

17. PanaMajapahit

18. Podo Bongso

19. Purbokayun

20. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya)

21. Tri Tunggal Bayu

Mohon maaf jika ada yang tidak terdaftar karena kurang informasi, mohon ditambahkan.

Sumber : bpk Jim Siahaan