Tampilkan postingan dengan label Keluhuran Budi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluhuran Budi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2019

BAHAGIAKANLAH ORANG LAIN


Benar terjadi:
Ada seorang pria Yahudi bernama Yankel, yang memiliki toko roti, di sebuah kota, Crown Heights, Jerman.  Dia selalu berkata, "Kamu tahu kenapa aku hidup hari ini?"
Dia berkata, " Ketika aku masih remaja, saat itu di Jerman. Nazi membunuh orang Yahudi tanpa ampun. Kami berada di kereta dibawa ke Auschwitz oleh Nazi.  Malam datang dan udara sangat dingin di kompartemen itu. Nazi meninggalkan kami di sisi rel semalaman, kadang berhari-hari, tanpa makanan.  Tidak ada selimut untuk menghangatkan kami.  Salju jatuh di mana-mana.  Angin dingin menerpa pipi kami, setiap detik.  Kami ada ratusan orang di malam yang sangat dingin itu.  Tidak ada makanan.  Tidak ada air.  Tidak ada tempat berlindung.  Tidak ada selimut ". "Darah di tubuh kami mulai membeku menjadi es. Di sebelah aku, ada seorang lelaki Yahudi tua yang baik dari kota asalku.  Dia menggigil dari kepala hingga ujung kaki, dan kelihatannya kurang baik keadaannya. Jadi aku memeluknya untuk menghangatkannya. Aku memeluknya erat-erat untuk memberinya panas.  Aku menggosok lengannya, kakinya, wajahnya, lehernya.  Aku memohon padanya supaya semangat hidup. Aku memberinya semangat. Sepanjang malam, aku membuat pria ini tetap hangat. Aku lelah, dan kedinginan.  Jari-jariku mati rasa, tetapi aku tidak berhenti menggosokkan panas ke tubuh lelaki tua itu. Jam demi jam berlalu.  Akhirnya, pagi datang dan matahari mulai bersinar.  Aku melihat sekeliling untuk melihat orang lain. Yang membuatku ngeri, yang bisa kulihat hanyalah tubuh yang membeku.  Yang bisa aku dengar hanyalah kesunyian yang mematikan. Tidak ada orang lain yang hidup.  Malam yang dingin itu membunuh mereka semua. Mereka mati karena kedinginan.  Hanya dua orang yang selamat: pria tua itu dan aku. Pria tua itu selamat karena aku menghangatkannya ... dan aku bertahan hidup karena aku menghangatkannya.

Bolehkah aku memberi tahumu rahasia untuk bertahan hidup di dunia ini?
Saat kamu menghangatkan hati orang lain, kamu akan tetap menghangatkan dirimu sendiri. Ketika kamu mendukung, mendorong, dan menginspirasi orang lain, maka kamu akan menemukan dukungan, dorongan dan inspirasi dalam kehidupanmu sendiri juga.
Teman-temanku, Itu adalah rahasia untuk hidup bahagia.  ""Ketika kamu baik untuk orang lain kamu baik untuk dirimu sendiri"".

"Ketika kamu membuat orang bahagia, orang akan membuat kamu bahagia".

Sabtu, 18 Mei 2019

MANUNGGALING KAWULA GUSTI



MANUNGGALING KAWULO GUSTI

Dalam diri manusia terdapat segumpal daging, Apabila segumpal daging itu rusak, Maka rusaklah seluruhnya, Segumpal daging itu bernama qolbu, Qolbu itu ati dalam bahasa Jawa,

Gusti sering diartikan Bagusing Ati, Gusti berarti pula Qolbu, Qolbu yang menjadi cerminan, Khaliq dengan ciptaan-Nya, Qolbu adalah terminal, Ati itu jangka jangkahing jaman, Atau titik pusat kesadaran kehidupan, Ruang dan waktu dimana kita hidup.

Kawulo adalah hamba, Gusti adalah bagusing ati, Bagusnya qolbu manusia, Dalam menghamba kepada Allah, Manusia menghamba itu kawulo, Dengan hati yang bisa mencerminkan Allah, Maka manunggallah kawulo dan gusti, Apabila qolbu itu dekat dengan Allah, Sampai dekatnya dengan urat nadi leher, Maka hati hamba menjadi tempat bersemayamnya Allah, Kalau hati dekat dengan Allah, Fikiran tenang dan mendengarkan suara hati, Perkataan difikirkan dulu, Tindakan diniyatkan dijalan Allah, Maka benar, Manunggaling Kawulo Gusti, Sehingga, Jumbuh Kawulo lan Gusti, Dalam ridlo-Nya, Ketidakbenaran Manunggaling Kawulo Gusti, Terletak pada kurang tepatnya persepsi dalam memahami, Akhirnya hal ini bisa menimbulkan kesesatan, Jadi, Manunggaling Kawulo Gusti tidak salah, Namun menyesatkan apabila tidak pas dalam memahaminya.

Seorang temanku pernah berkata, Seks itu tidak tabu, Seksi itu adalah fitrah manusia, Namun kalau ada anak lima tahun yang bertanya tentang seks, Akan menimbulkan ambiguitas akibat pemahaman perseptif anak lima tahun, Maka, orang tua merahasiakan seks pada anak seusia itu, Pemahaman tentang seks, Harus diberikan kepada orang yang sudah layak untuk memahaminya, Begitu pula Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah ajaran yang diberikan pada orang kebanyakan, Yang belum layak, Alias masih dalam usia lima tahun dalam spiritual.

Manunggaling Kawulo Gusti, Bukan berarti engkau jadi Fir’aun, Karena Fir’aun pun mengaku aku menjadi Tuhan, Padahal Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah mengaku-aku Tuhan, Justru sebaliknya menghamba kepada Tuhan, Sehingga semua tindakan mencerminkan sifat dan asma Tuhan. Engkau hanya bisa mencerminkan sifat dan asma Tuhan, Justru ketika engkau melakukan sebaliknya, dimana qolbu, hati, ati atau manah, Menjadi cerminan Sifat Tuhan, Pemahaman Manunggaling Kawulo Gusti bukan berarti tidak bekerja, Karena bekerja merupakan syarat hidup, Dengan bekerja kita merasa membutuhkan Tuhan dalam berkarya, Bukan sebaliknya.

Apabila Manunggaling Kawulo Gusti ini justru mendatangkan kesalahan persepi, Dan kesesatan akibat kesalahan persepsi, Mending dilarang saja ajarannya berkembang di masyarakat, Sebagaimana dilarangnya gambar porno di masyarakat, Seksnya itu sendiri tidak dilarang, Namun penyimpangan yang diakibatkan pemahaman yang tidak pada tempatnya-lah yang menyebabkan kerusakan.

Now, pertanyaan terakhir, Apakah Manunggaling Kawulo Gusti itu sesat...?

Silahkan jawab sendiri...!